Catur Sekar Kinasih, seseorang atau manusia, atau mahluk hidup yang tinggal di planet bumi, yang berjenis kelamin wanita, dan alhamdulillah normal, hanya saja sikapnya yang sedikit kurang normal, mohon dimaafkan? Kalau tidak mau memaafkan tidak apa-apa. Catur, biarpun bernama Catur, tapi dia tidak suka bermain Catur, karena tidak bisa juga memainkannya. Hidup di bumi dari tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh 4, pada hari yang insya Allah Selasa, pada pagi menjelang siang, pada awalnya bulan Februari, lebih tepaatnya tanggal satu. Pernah mengalami masa Taman Kanak-Kanak atau yang biasa di singkat TK, selama kurang lebih 2 tahun, di TK deket rumah, yang bernama TK Puri Ananda, dimana pernah di cium sama temen kecilnya yang seinget saya bernama Koko. Lalu berlanjut ke Sekolah Dasar, atau yang biasa di sebut SD, selama kurang lebih 6 tahun, gak lebih gak kurang deh, pas. Di SD deket rumah juga yang bernama SD Bintara V. Dilanjutkan kembali ke tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu ke Sekolah Menengah Pertama, atau yang biasa di singkat SMP, selama 3 tahun di SMP Muhammadiyah 50, perumnas klender, jaktim. Yang bisa di tempuh dengan satu kali naik angkutan umum, atau yang biasa di singkat angkot, yaitu angkot 03.
Di waktu masa-masa SMP si Catur, dia satu SMP dengan teman rumahnya dan sekaligus teman ngajinya yang bernama Azmi, tapi tidak sekelas. Dikarenakan waktu tes masuk SMPnya berbeda. Mereka teman sejak kecil. Sampai ada yang mengira mereka berdua adik-kakak, padahal dari muka aja jauh beda. Di awal memasuki semester pertama ternyata Catur masuk di kelas (yang katanya) unggulan. Dan akhirnya bertemu dengan sesama mahluk bumi juga yang berjenis kelamin wanita dan pria, yang akhirnya menjadi teman Catur sampai sekarang. Ada yang wanita terlebih dahulu, seperti Cerly yang rumahnya juga tidak begitu jauh dari si Catur dan Azmi, hingga akhirnya masih suka main bareng sampe sekarang. Lalu ada Feby, yang sekarang tinggal di Solo. Ada Irene yang tinggalnya di jalan Mawar Merah, sering pindah rumah tapi tetap di lingkungan jalan Mawar Merah. Ada Dwi Citra, yang rumahnya di daerah yang bernama Rawadas, di Jakarta Timur. Ada Yunita yang paling exited dari semuanya, karena mempunyai pemikiran yang sedikit lebih dewasa atau 17 tahun ke atas, yang bertempat tinggal di Malaka Country, di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Kalo dibagian kaum adam, ada yang namanya Sofyan, dia pria yang bertubuh luas, namun sangat humoris dan sangat tidk bisa diam, yang rumahnya dekat dengan sekolah. Ada Miftah, dia pria yang bertubuh sedang, bersuara ngebass karena dia pria. Oh iya, ada satu lagi yang bernama Nadia, dia wanita yang bertubuh gemuk tapi berwajah manis, dan dia baik sekali.
Masa-masa SMP si Catur tidak begitu penting untuk diceritakan karena di situ dia sedang mengalami suatu proses yang di sebut proses 4L4Y. Jadi tidak begitu penting untuk diceritakan, karena semua orang pasti pernah mengalami 4L4Y, karena 4L4Y adalah suatu proses pendewasaan kalau menurut saya dan beberapa orang yang sepemikiran dengan saya. Hanya saja ada satu cerita di mana si Catur melewati masa ABGnya ini dengan pacaran cinta-cintaan monyet bersama lelaki yang (mudah-mudahan) beruntung pernah pacaran dengan Catur. Lelaki tersebut, sebut saja namanya Petra, karena memang namanya Petra. Satu tahun lebih tua di atas Catur. Mereka jadian pada tanggal yang bagus sekali, dan si Catur baru menyadarinya setelah dia sudah lulus SMA, karena si Petra ini mengajaknya balikan. Tanggalnya itu adalah 20-07-2007, sangat langka. Sayang hanya bertahan selama 9 bulan kira-kira. Dan ada satu kenangan lagi di masa SMP si Catur, yaitu mendapatkan kado spesial dari si Sofyan, yaitu lukisan salah satu pemusik legendaris, Iwan Fals. Dikarenakan si Catur ini lumayan menyukai lagu-lagu dari Iwan Fals. Kado itu diberikan saat kelulusan. Sampai saat ini masih tesimpan dan terpajang rapih di salah satu bagian tembok rumah orang tua si Catur.
Berlanjut ke masa SMA si Catur. Catur masuk di SMA 103 Jakarta Timur. Kali ini dia kembali satu sekolah dengan temannya yang bernama Cerly. Hanya saja tidak sekelas, padahal semasa SMP selalu sekelas. Catur dan Cerly hanya bersebelahan saja ternyata kelasnya, Catur X-5 dan Cerly X-6. Saat kelas sepuluh itu, Catur berteman dengan beberapa teman dekat, yang sampai saat ini juga terkadang masih bertemu. Seperti dengan Ghina, yang rumahnya berada di Duta Kranji, perumahan yang setiap hujan di serang banjir, karena dilewati oleh kali. Lalu ada Elfia atau biasa di panggil Pipi, yang bertempat tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur. Kemudian ada Fauziah dan biasa di panggil Papau. Ada Nadira yang berbadan besar, berkaki besar, bertangan besar, semua besar termasuk juga berhati besar. Ada Dewa, Indri, Gita, Tami, Siti, banyak dah. Kalalu dari yang berjenis kelamin pria, ada Hafizh yang rumahnya tidak jauh dari rumah Catur, ada Vidi, Mawan, Rusydi, Aang, Denny, dan masih banyak lagi. Tibalah saatnya si Catur memasuki kelas sebelas atau 2 SMA, dan berada di kelas IPS. Dimana saat-saat kelas sebelas itu saatnya untuk main dan senang-senang. Catur kembali sekelas dengan Ghina dan Nadira. Dan kembali sekelas pula dengan Cerly. Disini kenal teman-teman baru lagi, seperti Dwi, Prissa, Nita, Firda, Yulia, Dian, Rebel, Sarah, Upi, banyak jugalah pokoknya, masa mau disebutin satu-satu? Ini saya nulisnya sambil nahan ngantuk nih masalahnya. Kalo yang cowoknya ada Bocil, Ucup, Carel, Seto, Ian, Eky, Fatih, Nanda, Jef, Andra, Viko, and the special person and our always love him is Tama, Setiawan Utama. Dan masih banyak lagi. Mereka semua berteman baik selama kelas sebelas, meskipun sedikit ada tragedi yang menyebabkan sedikit rusuh, rahasia lho ini, jangan kasih tau siapa-siapa ya? Sempat si Cerly, Nadira, Ghina, Rebel, mereka berantem karena satu cowok yang berinisial Eky. Nama-nama tersangka tadi tidak boleh disebutkan. Hanya boleh di tulis. Dan Catur menjadi penengah yang tidak tahu apa-apa namun harus menanggung beban, dengan memegang rahasia masing-masing tersangka. Mereka semua curhat pada Catur. Catur hanya bisa pasrah dan sempat di bilang 'backstabber'. Hanya bisa pasrah dan diam. Sampai akhirnya masalah tersebut clear secara keseluruhan. Alhamdulillah. Dan sekali lagi saya kasih tau, saya ngantuk lho.
Naik ke kelas dua belas, atau kelas 3 SMA. Catur sudah tidak sekelas dengan Ghina ataupun Nadira ataupun Cerly. Tapi dia kembali sekelas dengan teman di waktu kelas sepuluh, yaitu Dewa dan Denny. dari kelas sebelas dia kembali sekelas dengan Nita,Viko, Bocil, Ian dan beberapa yang lainnya. Melewati masa kelas dua belas yang seharusnya serius belajar untuk menghadapi UN, namun tidak untuk Catur. Karena dia justru baru memulai aksinya yang bandel. Dari memakai kaus kaki hitam ke sekolah, selama kelas dua belas, yang seharusnya itu tidak boleh dilakukan. Sampai teman-teman yang cowok bertanya bagaimana dia bisa lolos tanpa ketahuan guru piket kalau memakai kaus kaki hitam. Saya diberi tahu Catur, katanya dia hanya mengikuti barisan saja, saat berbaris untuk salim kepada guru piket di depan gerbang, dia mengikuti orang yang berada lebih dulu didepannya, sehingga guru tidak begitu memperhatikan kaus kaki si Catur. Padahal dia memakai rok yang sedikit mengatung lho. Lalu kebandelan yang berikutnya, yaitu ikut-ikutan nongkrong sama anak-anak Mamank, salah satu tongkrongan anak-anak 103, yang sampe sekarang pun terkadang masih dia laksanakan. Hingga pernah di panggil BK karena ketauan nongkrong. Cabut pelajaran dari awal pelajaran sampe pulang. Masuk ke kelas lain saat ada guru yang tidak disenanginya mengajar atau malas belajar. Telat sekolah bukan pulang malah main kelayapan. Sampe pernah waktu sungkeman lebaran bulan ramadhan tahun berapa ya waktu itu? Lupa, itu dia sungkem sama ibunya, eh ibunya malah ngetawain, Catur heran dan bertanya sama ibu, "kok ibu ketawa sih?" ibu menjawab, "kamu itu lucu, minta maaf sampe nangis-nangis tapi nanti ngulangin lagi bandelnya hahahaha" si Catur dan anggota keluarga yang lain malah jadi pada ketawa. Yak, itulah si Catur yang dari kecilnya sudah manis, lalu semakin manis karena bisa melakukan perbuatan bandel, padahal cewek, pakai kerudung pula, astaghfirullahaladzim. Tapi sekarang insya Allah sedang dalam masa pertobatan, di masa kuliahnya. Dia kuliah di Universitas swasta, yaitu Gunadarma, mengambil jurusan Psikologi, yang sebenarnya bertujuan sekalian berobat jalan.
Sekian tentang si Catur, yaitu satu-satunya cewek berkaus kaki hitam semasa SMAnya di kelas dua belas. Dan saya semakin ngantuk, dan akhirnya saya bisa pergi tidur.
1 komentar:
hidup lo rumit amat kaya cerbung(cerita bersambung).....wkwkwkk
Posting Komentar