Jumat, 01 Januari 2016

Keinginan Karir Kita di Masa Depan (Tugas 3)

Saat ini kita akan berbicara mengenai keinginan karir kita di masa depan. Semua orang secara sadar ataupun tidak pastilah sebenarnya mempunyai keinginan untuk menjadi sesuatu di masa depannya. Dan keinginan itu pun berbeda-beda dan biasanya beberapa orang mempunyai keinginan yang berubah-ubah pula. Saya pun termasuk mempunyai keinginan yang berubah-ubah namun tidak banyak berubah. Sejak kecil sampai saya menginjak bangku SMA kelas 10, saya masih bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mempelajari pelajaran yang mana harus dikuasai oleh seorang dokter, saya merasa tidak mampu dengan pelajaran itu saya pun memikirkan ingin mengganti keinginan saya di masa depan tersebut. Menginjak kelas 11, saya masuk di jurusan IPS. Dan ternyata saya lebih cocok disana. Saya suka pelajaran-pelajaran sosial, saya suka dengan interaksi sosial, dan saya pun mencara referensi kira-kira dari jurusan IPS saya bisa melanjutkan studi di bidang apa saat kuliah nanti? Setelah menemukannya, yaitu bidang Psikologi, saya memutuskan untuk menjadi seorang Psikolog.

Psikolog sendiri mempunyai pengertian bahwa psikolog adalah seorang sarjana psikologi yang telah menempuh studi program akademik (sarjana) dan melanjutkan pada program profesi psikolog. Lantas apa yang menjadi perhatian atau fokus utama dari seorang psikolog? Psikologi sendiri merupakan suatu ilmu mengenai perilaku manusia. Dengan demikian, keahlian seorang psikolog adalah menganalisa perilaku dalam upaya untuk memahami  karakter individu maupun kelompok. Lebih sederhananya, bila seorang dokter dekat dengan masalah kesehatan fisik, maka segala hal yang terkait dengan perilaku manusia merupakan hal yang dipelajari oleh seorang psikolog. Tidak jarang, orang-orang menganggap psikolog sebagai peramal, orang yang ahli memecahkan masalah atau bahkan dianggap sebagai dokter yang menangani pasien sakit jiwa. Terkait dengan adanya penilaian yang keliru tentang profesi psikolog yang identik dengan masalah kejiwaan, hal ini membuat orang menjadi enggan untuk menemui psikolog karena takut dianggap 'gila' oleh orang lain. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, peran psikolog adalah membantu memahami perilaku manusia, apapun bentuk perilaku itu, jadi tidak hanya sebatas masalah kejiwaan saja. Justru bila hal tersebut berkaitan dengan masalah kejiwaan, profesi yang dinilai lebih ahli adalah psikiater (sebutan untuk dokter yang mengambil spesialisasi kejiwaan).

Bila seorang dokter menggunakan alat seperti jarum suntik, stetoskop, atau memberikan obat atas penyakit pasien, seorang psikolog bekerja dengan cara yang sederhana yaitu mengajak klien berbicara. Inilah yang disebut dengan konsultasi, seseorang datang menemui psikolog, kemudian bila mereka tengah menghadapi suatu masalah, psikolog akan mendengarkan - kemampuan yang harus dimiliki psikolog, dan memahami keadaan klien serta bersama-sama akan diupayakan jalan keluar atas masalah tersebut. Selain konsultasi, psikolog terkadang menggunakan berbagai alat tes (misalnya tes IQ) dalam rangka melengkapi data tentang pasien.

Pekerjaan kedua yang saya inginkan adalah cukup menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak-anak saya nanti. Seperti ibu saya yang perannya sangat baesar dan baik dalam kehidupan keluarga saya. Beliau mampu mengurus 4 anaknya yang sekarang tiga dari empat anaknya sudah mempunyai keluarga masing-masing dan sudah mempunyai pekerjaan masing-masing pula dengan sebelumnya telah berhasil lulus dari perguruan tinggi. Begitu lah peran beliau di keluarga saya, maka dari itu saya pun ingin menjadi seperti beliau pula, yang mampu mengurusi empat anak juga seorang suaminya dengan baik.

Sumber :

Nama : Catur Sekar Kinasih
Kelas : 4pa12

NPM : 11512561

Senin, 09 November 2015

Sistem Informasi di Bidang Psikologi dan Penerapannya (Tugas 2)

A. Sistem Informasi


  1. Sistem Informasi adalah satu kesatuan data olahan yang terintegrasi dan saling melengkapi yang menghasilkan output baik dalam bentuk gambar, suara, maupun tulisan.
  2. Sistem Informasi adalah sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam suatu bidang tertentu. Dalam sistem informasi, diperlukannya klarifikasi alur informasi. Hal ini disebabkan keanekaragaman kebutuhan akan suatu informasi oleh pengguna informasi. Kriteria dari sistem informasi, antara lain fleksibel, efektif, dan efisien.
  3. Sistem Informasi adalah sistem yang saling berhubungan dan terintegrasi satu dengan yang lain dan bekerja sesuai dengan fungsinya untuk mengatur masalah yang ada.
  4. Sistem Informasi adalah sekumpulan hardware, software, brainware, prosedur, dan atau aturan yang di organisasikan secara integral untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat guna memecahkan masalah dan pengambilan keputusan.

B. Sistem Informasi Psikologi



Sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi yang berkaitan dengan psikologi. Penggunaan sistem informasi dalam psikologi ini dapat digunakan dalam banyak hal di dalam dunia psikologi sehingga dapat membantu dan mempermudah dalam proses atau pun mendapatkan suatu hasil.

Hal ini dapat terlihat dari beberapa contoh yang akan dibahas, yaitu :

- Contoh 
Dalam pengaplikasian alat tes, yang awalnya dikerjakan dengan cara manual. Dengan adanya sistem informasi psikologi ini dapat mengerjakan alat tes secara komputerisasi, sehingga hal ini dapat mempermudah bagi individu yang mengerjakannya dan mempersingkat waktu dalam pengerjaannya.

C. Penerapan Sistem Informasi di Bidang Psikologi

Salah satunya dalam hal penggunaan Sistem Informasi dalam bidang psikologi sangat terlihat dalam e-counseling. Hal ini tentunya lebih memudahkan proses konseling antara konselor dengan kliennya, sehingga jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang dalam proses konseling.


sumber :

  • Pratiwi, dkk. (2012). Sistem informasi psikologi. Diakses pada http://dokumen.tips/documents/paper-sippengantar-sistem-informasi-psikologi.html
  • https://corrie03.wordpress.com/2013/11/19/definisi-sistem-informasi-psikologi/ 
  • http://nadyanavyanti.blogspot.co.id/2015/10/sistem-informasi-bidang-psikologi-dan.html


Nama : Catur Sekar Kinasih
Kelas  : 4PA12
NPM  : 11512561

Minggu, 18 Oktober 2015

Sistem Informasi Psikologi dalam Suatu Organisasi dan Penerapannya (Tugas 1)

A. Definisi dari Sistem Informasi dan Psikologi
    Sebelum kita membahas sistem informasi itu apa mari kita bahas terlebih dahulu pengertian sistem, sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu (Istiningsih, 2009).
    Sedangkan informasi adalah sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengabilan keputusan (Magaline, 2008).
    Jadi, sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian , mendukung operasi ,bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan (Jogiyanto,2005;11).
    Dapat ditarik kesimpulan sistem informasi psikologi adalah suatu pemanfaatan media teknologi untuk membantu mempermudah mengolah data yang berkaitan dengan ilmu psikologi, dengan bantuan media teknologi komputer yang berkontribusi dengan sistem informasi, dimana hal ini akan sangat membantu dan mempermudah mulai dari penginputan data, pemrosesan data hingga mendapatkan hasil (output) dalam pengolahan data.

Contoh Sistem Informasi Psikologi adalah
-   Perusahaan sekarang ini banyak menggunakan software tentang alat test agar waktu yang digunakan dalam menyeleksi calon karyawan baru lebih cepat dan efisien.
-        Test IQ
-    Test Kepribadian

B. Komponen-komponen Sistem Informasi
-        Hardware (perangkat keras)
-        Software (perangkat lunak)
-        Prosedur
-        Basisdata
-        Jaringan komputer dan komunikasi data
-        Brainware

C. Peranan Sistem Informasi Dalam Suatu Organisasi
-        Turut serta dalam dalam pelaksanaan tugas rutin
-        Mengaitkan perencanaan, pengerjaan, dan pengendalian dalam sistem
-        Mengkoordinasikan subsistem-subsistem
-        Mengintegrasikan subsistem-subsistem yang ada
Selain memiliki banyak peranan, sistem informasi memiliki banyak kemampuan juga, dimana dengan kemampuan yang dimiliki diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya-biaya tertentu, meningkatkan servis terhadap konsumen, dan yang tidak kalah pentingnya adalah adanya peningkatan dalam pengambilan keputusan. Kemampuan yang dimiliki oleh sistem informasi, antara lain : Melaksanakan komputasi numerik, menyimpan informasi dalam jumlah besar ke dalam ruang yang kecil dan mudah diakses, menyajikan informasi dengan jelas, mengotomatisasi proses-proses yang manual, menyediakan komunikasi dalam dan antar organisasi yang murah.

Daftar Pustaka :
https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi
http://nadyanavyanti.blogspot.co.id/2015/10/sistem-informasi-dalam-suatu-organisasi.html
https://amalinasr94.wordpress.com/2015/10/08/sistem-informasi-dan-psikologi/

Nama : Catur Sekar Kinasih
Kelas  : 4 PA 12
NPM  : 11512561

Sabtu, 04 Juli 2015

TERAPI KONSELING REALITAS
A.    Prinsip
Konseling realitas merupakan model konseling yang termasuk kelompok konseling cognitive-behavioral (perilaku-kognitif). Fokus terapi konseling realitas adalah problema kehidupan yang dirasakan oleh klien saat ini, dan dilaksanakan melalui interaksi aktif antara konselor dan klien. Dalam hal ini konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan klien memberi jawaban sebagai respons terhadap pertanyaan konselor. Berkenaan dengan hal tersebut maka keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh konselor realitas. Tokoh utama model konseling realitas adalah seorang psikiater, yaitu Dr.William Glaser dengan dasar teorinya adalah “teori pilihan” untuk memenuhu atau memuaskan kebutuhan dasar manusia yang bersifat universal secara bertanggungjawab. Teori ini meupakan pengembangan dari “teori Pengendalian”. Ide dasarnya adalah bahwa terlepas dari apa yang telah terjadi pada manusia, apa yang telah dikerjakan oleh manusia, dan bagaimana kebutuhan-kebutuhan manusia tidak terpenuhi atau dilanggar, manusia mampu mengevaluasi realitas terkini dan kemudian memilih perilaku untuk memenuhi kebutuhan secara efektif pada masa kini dan masa yang akan datang (manusia dapat memudarkan pengalaman masa lalu, dan kemudian memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan masa kini dengan perilaku yang bertanggungjawab).

            B.     Tujuan terapi realitas

Tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi. Pada dasarnya, otonomi adalah kematangan yg diperlukan bagi kemampuan seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dgn dukungan internal. Kemampuan ini menyiratkan bahwa orang-orang mampu bertanggung jawab atas siapa mereka dan ingin menjadi apa mereka serta mengembangkan rencana-rencana yg bertanggung jawab dan realistis guna mencapai tujuan mereka. Glasser dan zunin sepakat bahwa terapis harus memiliki tujuan tertentu bagi klien dalam pikirannya. Akan tetapi, tujuan ini harus diungkapkan dari segi konsep tanggung jawab individual dan dr segi tujuan behavioral karena klien harus menentukan tujuan itu bagi dirinya sendiri. Mereka menekankan bahwa kriteria psikoterapi yg berhasil sangat bergantung pada tujuan yg di tentukan oleh klien. Pada dasarnya tujuan dari konseling realitas adalah sama dengan tujuan dari kehidupan manusia yaitu membantu individu untuk mencapi succses identity. Telah dikatakan didepan bahwa untuk mencapai succes identity diperlukan suatu rasa tanggung jawab dari individu, untuk mencapinya individu harus mencapai kepuasan terhadap kebutuhan personal. Untuk memenuhi kepuasan terhadap kebutuhan tersebut perlu diperhatikan 3R yaitu reality (kenyataan), right (hal yang baik), responsible (tangung jawab).

            C.    Prosedur Konseling
Beberapa prosedur yang harus diperhatikan oleh konselor realitas, prosedur konseling realita ada delapan, yaitu
1               .      Berfokus pada personal
               Prosedur utama yaitu mengkomunikasikan perhatian konselor pada klien, Glasser                                beranggapan perlunya keterlibatan (involvement) yang maknanya sama dengan empati                        dalam pengertian yang dikemukakan Rogers, keterlibatab yang dicapai konselor dapat                          menjadi fungsi kebebasan, tanggung jawab dan otonomi pada klien.

2               .      Berfokus pada perilaku
               Koseling realitas berfokus pada perilaku tidak pada perasaan dan sikap. Menurut Glasser                      karena perilaku dapat diubah dan dapat dengan mudah dikendalikan jika dibandingkan                        dengan perasaan atau sikap.

3               .      Berfokus pada saat ini
               Konselor tidak perlu melakukan eksplorasi terhadap pengalaman-pengalaman yang irasional                terhadap masa lalu konseli, hal ini sejalan dengan tujuan konseling menurut Glasser ada tiga                tahap, yaitu membantu konseli, melihat perilakunya (yang terakhir) adalah yang tiodak                        realistic, menolak perilaku klien yang tidak bertanggung jawab, dan mengajarkan cara yang                terbaik menemukan kebutuhannya dalam dunia riil.

4               .      Pertimbangan nilai
               Dalam konseling relitas klien perlu menilai kualitas perilakunya sendiri apakah perilakunya                itu bertanggung jawab, rasional, realistic dan benar atau justru sebaliknya, penilaian                            perilakunya oleh diri konseli akan membantu kesadaran tentang dirinya untuk melakukan                    hal-hal yang posutif.

5               .      Pentingnya perencanaan
               Konseling realitas menganggap konseling harus mampu menyusun rencana-rencana yang                    realistic sehingga tingkah lainnya menjadi lebih baik, menjadi orang yang memiliki identitas                keberhasilan. Dalam hal ini konselor bertugas membantu konseli untuk memperoleh                            pengalaman berhasil pada tingkat-tingkat yang sulit secara progresif.

6               .      Komitmen
               Klien harus memiliki komitmen atau keterikatan untuk melaksanakan rencana itu.                                Komitmen ditunjukkan dengan kesediaan konseli sekaligus secara riil melaksanakan apa                      yang telah direncanakan. Dan konselor harus meyakinkan konseli bahwa kepuasan atau                        kebahagiaan sangat ditntukan oleh komitmen pelaksanaan rencana-rencana tersebut.

7               .      Tidak menerima dalih
               Dalam hal ini ketika konseli melaporkan mengenai alasan-alasan kegagalan tersebut,                            sebaiknya konselor menolak menerima dalih atau alasan-alasan yang dikemukakan konseli.                Justru pada saat itu konselor peril membuat rencana dan membuat komitmen baru untuk                      melaksanakan upaya lebuh lanjut. Dan konselor tidak perlu menanyakan mengapa                                kegagalan tersebutbisa terjadi, tetapi konselor sebaiknya menanyakan apa rencana lebih                      lanjut dan kapan mulai melaksanakannya.

8               .      Menghilangkan hukuman
               Hukuman menurut Glasser tidak efektif dan justru memperburuk hubungan dalam                                konseling. Hukuman yang biasanya dialkukan dengan kata-kata mencela dan menyakitkan                  hati konseli harus dihilangkan, setidaknya dalam hubungan konseling. Glasser                                      menganjurkan agar klien tidak dihukum dalam bentuk apapun dan dibiarkan belajar                              mendapatkan konsekuensi secara wajar dari perilakunya sendiri.



        Ilustrasi Kasus
        Amir siswa kelas 7 SMP, dia sangat tidak disiplin sehingga dia mengalami hambatan dalam                 menjalankan kewajibannya sebagai siswa disekolah. Hal ini tentu akan  berakibat pada proses             belajar mengajar dan prestasi belajar Amir disekolah. Bimbingan bagi Amir ini sangat                         diperlukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan dan agar membuat Amir dapat                     mengikuti proses belajar mengajar secara baik.Dalam hal ini, Amir diberikan bantuan dengan             konseling realita dengan menggunakan prosedur WDEP. Amir diingatkan kembali pada                       keinginan-keinginannya, tujuannya, kemudian memberikan arahan-arahan merumuskan rencana         baru dan konselor memberikan pengawasan terhadap perilakunya.

sumber    : https://www.academia.edu/6845590/Gestalt_n_Psikoanalisa
                  

Nama   : Catur Sekar Kinasih
Kelas    : 3 PA 12
NPM    : 11512561

Minggu, 18 Januari 2015

Tugas Portofolio ke-4

Komunikasi Dalam Manajemen

A.    Definisi Komunikasi
Berikut adalah pengertian Komunikasi menurut para ahli :

1. Raymond Ross, Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator

2. Bernard Barelson & Garry A. Steiner,Komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb

3. Colin Cherry, Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.

B.      Proses Komunikasi
Proses komunikasi dapat dilihat dari unsur-unsur formula Lasswell yaitu who (siapa pengirimnya/komunikator), say what (apa yang dikatakan/pesan), in which channel (saluran komunikasi apa yang digunakan/mesia), what effect (apa akibat yang akan ditimbulkan/efek) (Effendi,1993:256)

 Dalam proses komunikasi, kewajiban komunikator adalah mengusahakan agar pesan-pesannya dapat diterima oleh komunikan sesuai dengan kehendak pengirim
Ø   Proses Komunikasi (Kotler, 2000:551) Pengirin (sender)
Pengirim / komunikator adalah orang yang berinisiatif dan menyiapkan pesan untuk disampaikan Penerima merupakan pihak yang diharapkan mengerti pesan yang disampaikan oleh  pengirim
Ø   Encoding. Merupakan proses penerjemahan informasi kedalam simbol-simbol tertentu yang akan disampaikan kepada penerima informasi dalam komunikasi lisan sehari-hari, encoding dilakukan secara relatif otomatis.
Ø  Pesan (message) Pesan merupakan bentuk fisik hasil proses encoding. Kata merupakan pesan dalam komunikasi lisan. Sedangkan tulisan merupakan pesan dalam komunikasi tertulis seringkali pesan juga disampaikan dengan gerakan tubuh, raut wajah, atau cara berbicara
Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunkator. Pesan bisa berupa informasi, ide, pikiran, atau perasaan.
Ø   Media komunikasi Media komunikasi merupakan metode penyampaian informasi dari satu pihak lain
Ø   Decoding (penerjemahan) Decoding merupakan proses dimana penerima menerjemahkan atau mengartikan pesan yang diterima
Ø   Penerima (Receiver) Penerima merupakan pihak yang menerima dan diharapkan mengerti pesan yang disampaikan oleh pengirim
Ø   Umpan balik (feedback) Umpan balik merupakan reaksi pihak penerima terhadap komunikasi yang dikirim oleh pengirim

C.    Menjelaskan Hambatan Dalam Komunikasi

1.       Hambatan dari Proses Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
Hambatan dalam penyandian atau simbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima atau mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.

3. Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima

4. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.

2.      Jelaskan Pengertian Komunikasi Interpersonal Dalam Organisasi
Komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya dalam suatu penyampaian pesan atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan (downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication). Secara sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu pengertian (meaning). Jadi dalam berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan pesan yang ada pada kita kepada orang lain. Adapun berkomunikasi secara langsung dan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Karena dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung. Proses berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim, kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam suatu organisasi mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.

1. Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.

2. Situational
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

3.      Model Pengolahan Informasi Komunikasi
Model Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya

Model pengolahan informasi dibawah ini ada 4 yaitu:
1.      Rational
Proses informasi adalah proses menerima, menyimpan dan mengungkap kembali informasi. Dalam proses pembelajaran, proses menerima informasi terjadi pada saat siswa menerima pelajaran. Proses menyimpan informasi terjadi pada saat siswa harus menghafal, memahami, dan mencerna pelajaran. Sedangkan proses mengungkap kembali informasi terjadi pada saat siswa menempuh ujian atau pada saat siswa harus menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu perlu dikemukakan bahwa informasi masuk ke dalam kesadaran manusia melalui pancaindera, yaitu indera pendengaran, penglihaan, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Informasi masuk ke kesadaran manusia paling banyak melalui indera pendengaran dan penglihatan. Berdasarkan alas an tersebut , maka media yang banyak digunakan adalah media audio, media visual, dan media audiovisual (gabungan media audio dan visual). Belakangan berkembang konsep multimedia, yaitu penggunaan secara serentak lebih daripada satu media dalam proses komunikasi, informasi dan pembelajaran. Konsep multimedia diasarkan atas pertimbangan bahwa penggunaan lebih dari pada satu media yang menyentuh banyak indera akan membuat proses komunikasi termasuk proses pembelajaran lebih efektif.
Dalam proses komunikasi atau proses informasi (dan juga proses pembelajaran) sering dijumpai masalah atau kesulitan. Beberapa masalah dalam proses komunikasi, misalnya:
Ditinjau dari pihak siswa: Kesulitan bahasa, sukar menghafal, terjadi distorsi atau ketidakjelasan, gangguan pancaindera, sulit mengungkap kembali, sulit menerima pelajaran, tidak tertarik terhadap materi yang dipelajari, dsb. Di tinjau dari pendidik, misalnya pendidik tidak mahir mengemas dan menyajikan materi pelajaran, faktor kelelahan, ketidak ajegan, dsb. Ditinjau dari pesan atau materi yang disampaiakan, misalnya: materi berada jauh dari tempat siswa, materi terlau kecil, abstrak, terlalu besar, berbahaya kalau disentuh.

2.      Limited capacity

3.       Expert

4.       Cybernetic

F. Model Interaktif Manajemen
Model interaktif manajemen mencakup:
1. Confidence
Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2. Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan
3. Interaction management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
4. Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5. Other-orientation

sumber :
http://ghifaripahlevi.blogspot.com/2015/01/psikologi-manajemen-tugas-portofolio-4.html
http://nadyanavyanti.blogspot.com/2014/12/tugas-portofolio-ke-4.html
https://ajengjiwapangestu.wordpress.com/2014/01/15/komunikasi-dalam-manajemen/
http://pengertianmanagement.blogspot.com/2013/03/manajemen-konflik-definisi-ciri-sumber.html

Nama          : Catur Sekar Kinasih
Kelas          : 3 PA 12
NPM           : 11512561

Jumat, 28 November 2014

Tugas ke-3

·         Definisi Empowerment
Empowerment, merupakan istilah yang cukup populer dalam bidang manajemen khususnya manajemen Sumber Daya Manusia. Banyak penafsiran tentang empowerment. Dan salah satu penafsiran yang dikenal oleh sebagian besar dari kita adalah empowermentsebagai pendelegasian wewenang dari atasan kepada bawahan. Empowerment , yaitu upaya mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat..Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku atau aktor yang menentukan hidup mereka sendiri.

·         Tujuan empowerment
Merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya.
Tujuan dari pemberdayaan atau empowerment adalah untuk  membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan mengerahkan sumberdaya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut.

·         Kunci efektif Empowerment
Konsep pemberdayaan (empowerment), menurut Friedmann muncul karena adanya dua primise mayor, yaitu “kegagalan” dan “harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah gagalnya model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan, sedangkan harapan muncul karena adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan gender, peran antara generasi dan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Dengan dasar pandangan demikian, maka pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada masyarakat, sehingga pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya dengan pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi.
Selanjutnya Friedmann dalam Prijono dan Pranaka (1996) menyatakan bahwa kekuatan aspek sosial ekonomi masyarakat menjadi akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah tangga yaitu informasi, pengetahuan dan ketrampilan, partisipasi dalam organisasi dan sumber-sumber keuangan, ada korelasi yang positif, bila ekonomi rumah tangga tersebut meningkatk aksesnya pada dasar-dasar produksi maka akan meningkat pula tujuan yang dicapai peningkatan akses rumah tangga terhadap dasar-dasar kekayaan produktif mereka.




·         Definisi Stress
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atausumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.

·         Sumber-sumber Stress
-          Sumber-sumber stress didalam diri seseorang : Kadang-kadang sumber stress itu ada didalam diri seseorang. Salah satunya melalui kesakitan. Tingkatan stress yang muncul tergantung pada rasa sakit dan umur inividu(sarafino,1990). Stress juga akan muncul dalam seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan, bila seseorang mengalami konflik. Konflik merupakan sumber stress yang utama.
-          Sumber-sumber stress di dalam keluarga : Stress di sini juga dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti : perselisihan dalam masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda dll. Misalnya : perbedaan keinginan tentang acara televisi yang akan ditonton, perselisihan antara orang tua dan anak-anak yang menyetel tape-nya keras-keras, tinggal di suatu lingkungan yang terlalu sesak, kehadiran adik baru. Khusus pada penambahan adik baru ini, dapat menimbulkan perasaan stress terutama pada diri ibu yang selama hamil (selain perasaan senang, tentu), dan setelah kelahiran. Rasa stress pada ayah sehubungan dengan adanya anggota baru dalam keluarga, sebagai kekhawatiran akan berubahnya interaksi dengan ibu sebagai istrinya atau kekhawatiran akan tambahan biaya. Pra orang tua yang kehilangan anak-anaknya atau pasanganya karena kematian akan merasa kehilangan arti (sarafino,1990).
-          Sumber-sumber stress didalam komunitas dan lingkungan : interaksi subjek diluar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stress. Contohnya : pengalaman stress anak-anak disekolah dan di beberapa kejadian kompetitif, seperti olahraga. Sedangkan beberapa pengalaman stress oang tua bersumber dari pekerjaannya, dan lingkungan yang stressful sifatnya. Khususnya ‘occupational stress’ telah diteliti secra luas.
-          Pekerjaan dan stress : Hampir semua orang didalam kehidupan mereka mengalami stress sehubungan denga pekerjaan mereka. Tidak jarang situasi yang ‘stressful’ ini kecil saja dan tidak berarti, tetapi bagi banyak orang situasi stress itu begitu sangat terasa dan berkelanjutan didalam jangka waktu yang lama. Faktor-faktor yang membuat pekerjaan itu ‘stressful’ ialah :
1.      Tuntutan kerja : pekerjaan yang terlalu banyak dan membuat orang bekerja terlalu keras dan lembur, karena keharusan mengerjakannya.
2.      Jenis pekerjaan : jenis pekerjaan itu sendiri sudah lebih ‘stressful’ dari pada jenis pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu misalnya : jenis pekerjaan yang memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya (supervisi), guru, dan dosen.
3.      Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab bagi kehidupan manusia : contohnya tenaga medis mempunyai beban kerja yang berat dan harus menghadapi situasi kehidupan dan kematian setiap harinya. Membuat kesalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.
Menurut Sarafino (1990) stress kerja dapat disebabkan karena :
a.       Lingkungan fisik yang terlalu menekan
b.      Kurangnya kontrol yang dirasakan
c.       Kurangnya hubungan interpersonal
d.      Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja
-          Stress yang berasal dari lingkungan : lingkungan yang dimaksud disni adalah lingkungan fisik, seperti : kebisingan, suhu yang terlalu panas, kesesakan, dan angin badai (tornado,tsunami). Stressor lingkungan mencakup juga stressor secara makro seperti migrasi, kerugian akibat teknologi modern seperti kecelakaan lalu lintas, bencana nuklir (Peterson dkk, 1991) dan faktor sekolah (Graham,1989)

·         Pendekatan Stress
     1) Pendekatan Individu
         Seorang karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat stresnya.       Strategi individu yang telah terbukti efektif adalah:
          a. Teknik manajemen waktu
          b. Meningkatkan latihan fisik
          c. Pelatihan pengenduran (relaksasi)
          d. Perluasan jaringan dukungan sosial

     2) Pendekatan Perusahaan
         Beberapa faktor yang menyebabkan stres terutama tuntutan tugas dan peran, struktur organisasi     dikendalikan oleh manajemen. Strategi yang digunakan:
          a. Perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja
          b. Penggunaan penetapan tujuan yang realistis
          c. Perancangan ulang pekerjaan
          d. Peningkatan keterlibatan kerja
          e. Perbaikan komunikasi organisasi
          f. Penegakkan program kesejahteraan korporasi

·         Definisi Konflik
   Konflik menurut Alo Liliweri konflik adalah bentuk perasaan yang tidak beres yang melanda hubungan antara satu bagian dengan bagian lain, satu orang dengan orang lain, satu kelompok dengan kelompok lain. Konflik dapat secara positif fungsional sejauh ia memperkuat kelompok dan secara negatif fungsional sejauh ia bergerak melawan struktur.
   Konflik didefinisikan sebagai interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain saling bergantung namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan dimana setidaknya salah satu dari pihak-pihak tersebut menyadari perbedaan tersebut dan melakukan tindakan terhadap tindakan tersebut.

·         Jenis-jenis Konflik
    Konflik mempunyai banyak jenis seperti yang dikatakan James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik yaitu konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi.
1. Konflik Intrapersonal
    Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada           waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
    - bentuk konflik intrapersonal yaitu :
    a. Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-         sama menarik.
    b. Konflik pendekatan penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang                sama menyulitkan.
2. Konflik Interpersonal
   Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Maka Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.
3.  Konflik antar perorangan
     Konflik antar perorangan terjadi antara satu individu dengan individu lain atau lebih. Konflik ini biasanya disebabkan oleh adanya perbedaan sifat dan perilaku setiap orang dalam organisasi. Hal ini biasanya pernah dialami oleh setiap anggota organisasi baik hanya dirasakan sendiri maupun ditunjukkan dengan sikap.
4.  Konflik Antar Kelompok
   Tingkat lainnya dalam konflik di organisasi adalah konflik antar kelompok. Seperti diketahui bahwa sebuah organisasi terbentuk dari beberapa kelompok kerja yang terdiri dari banyak unit. Apabila diantara unit-unit disuatu kelompok mengalami pertentangan dengan unit-unit dari kelompok lain maka manajer merupakan pihak yang harus bisa menjadi penghubung antara keduanya.
5. Konflik antar organisasi
  Konflik juga bisa terjadi antara organisasi yang satu dengan yang lain. Hal ini tidak selalu disebabkan oleh persaingan dari perusahaan-perusahaan di pasar yang sama. Konflik ini bisa terjadi karena adanya ketidak cocokan suaut badan terhadap kinerja suatu organisasi.

·         Proses Konflik
Proses Konflik Proses konflik terdiri dari lima tahap antara lain potensi oposisi atau ketidakcocokan,kognisi dan personalisasi, maksud (niat), perilaku, dan hasil. Konflik dapat berkembang karena berbagai sebab, antara lain sebagai berikut:
1. Batasan pekerjaan yang tidak jelas
2. Hambatan komunikasi
3. Tekanan waktu
4. Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal
5. Pertikaian antar pribadi
6. Perbedaan status

7. Harapan yang tidak terwujud