Saya terpilih menjadi ketua IRM, tingkat ranting. Anda tau IRM? Dan kenapa ranting? Itu semacam OSIS di sekolah, tapi di SMP saya namanya IRM singkatan dari Ikatan Remaja Muhammadiyah, dan ranting itu tingkatan untuk yang paling rendah sebelum cabang, sampai ke pusat. Kenapa Muhammadiyah? Karena SMP saya di sana. Saat itu saya masih kelas 2 SMP, dimana sedang diadakan pergantian pengurus IRM. Kebetulan saya bersekolah di sana, saya ikutan aja. Dan saat kelas 1 saya sudah menjadi anggota. Ketika diadakannya pergantian pengurus ini, saya terpilih menjadi kandidat calon ketua. Saya kira terpilih menjadi kandidat calon suaminya Brad Pitt atau Jhonny Deep, tidak taunya calon ketua. Ya sudahlah, saya ikuti prosesnya. Beberapa teman saya juga ikutan dalam acara ini. Ada Irene, Azmi, Cerly, Feby, Abel, Giwang, Sofyan, banyak deh. Adik kelas juga banyak yang mendaftar untuk masuk menjadi anggota baru. Saat itu yang saya ingat ada Mela, Rhysa, Diaz, Dimas, Annisa, siapa lagi ya? Haduh saya gak sempet nanyain satu-satu nama mereka sih, jadi gak tau semua. Dan mulailah pemilihan calon ketua. Lalu penghitungan suara di mulai. Saya berharap untuk tidak terpilih, ternyata malah terpilih, tapi alhamdulillah. Dan wakil saya adalah Feby. Sekretaris saya Iren, sama siapa ya waktu itu? Udah lupa saya, maklumin lah ya. Saya menggantikan posisi Salim yang sebelumnya dia lah ketuanya. Salim menyerahkan berkas-berkas IRM kepada saya, disaksikan pembina IRM yang waktu itu masih di pegang oleh Ibu Cherty.
Tiba penerimaan murid baru dan IRM harus turun tangan untuk proses MOS. Setiap hari ada saja rapat yang dilaksanakan setelah pulang sekolah. Saya juga jadi ada alasan untuk pulang terlambat sama ibu saya, biarpun terkadang saya bukan rapat, melainkan main. Yes! Murid baru banyak juga yang mendaftar. Saya sebagai ketua harus datang lebih pagi dari semua anggota saya. Selalu saya berkumandang dalam hati kenapa saya jadi ketua ya tuhaaaan?? apa salah saya? yang seharusnya saya bisa berangkat lebih telat dari ini...tapi yasudah, saya jalani saja apa pun yang sudah terjadi pada saya. Soalnya lumayan juga jadi eksis. Sebenarnya saya tidak suka keeksissan, tapi memang sudah takdir saya mau bagaimana lagi? Lalu berlalu lah sudah masa MOS anak baru. Banyak yang saya kerjain juga. Banyak yang lucu-lucu juga. Ada satu anak, dia ternyata sepupunya sofyan temen saya, namanya Ricky. Duuuh bibit ganteng banget itu bocah, Sayang BERONDONG. Iya, BERONDONG. Dan satu hal yang saya ingatkan di sini, jangan pernah asal ngomong, nanti bisa kemakan omongan sendiri. Sedikit cerita, saya pernah bilang "gak banget pacaran sama BERONDONG". Dan saat saya naik ke kelas 3, saya punya pacar BERONDONG. Pacar cinta-cintaan monyet. Selesai masa jabatan saya.
Bersyukur menjabat selama setahun menjadi yang dimintai tanda tangan untuk kegiatan yang ada di sekolah. Dan karena itu saya jadi kenal semua pengurus yang ada di sekolah saya. Karena sekolah saya itu di gabung dengan SMAnya, saya juga jadi kenal banyak kakak kelas dari SMA. Lumayan buat cuci mata kalo lagi rapat bareng pengurus SMA. Saya juga jadi di kenal sama masyarakat hampir satu sekolah. Sampai tukang es di sekolah saya juga kenal sama saya. Yang saya bingung, emangnya tukang es di sekolah saya termasuk pengurus juga ya? Kok dia bisa kenal saya ya? Saya juga kenal sih sebenernya, nama tukang es itu Mang Kodir. Saya kan bisa kenal karena dia juga mengenal saya. Dan memang es dia itu paling di serbu sama masyarakat di sekolah saya. Selain murah, enak. Biarpun sehabis minum itu kadang bikin tenggorokan minta di garuk.
Kembali diadakan pergantian pengurus IRM. Saya mengundang adik-adik kelas saya. Seperti yang saya tulis tadi, saya pernah punya pacar BERONDONG. Saya kasih tau inisial namanya Dimas Catur Prasetyo. Saya heran kenapa inisial bisa panjang banget begitu ya? Dia juga saya undang, bersama temannya yang saya ingat Diaz dan ada Iqbal. Saya beri tau sesuatu, yang namanya Diaz itu termasuk salah satu fans saya lho. Saya sih sudah terbiasa mempunyai fans, jadi ya saya anggap teman saja dia. Kalau suatu saat Diaz baca tulisan ini, "ngaku gak lo kalo ngefans sama gue! Biar gue gak malu udah cerita begini. Oke?". Namanya itu Diaz zantos. Sekali lagi Diaz Zantos, yang katanya nama belakangnya itu kalo tidak salah nama dari ayahnya. Dan kenapa saya sedikit ceritakan tentang Diaz di sini, itu karena dia pernah menanyakan "cerita tentang gue ada gak?" maka saya tulis sedikit di sini, dan apa sih yang nggak buat fans. Dan jangan lupa makasih lo sama gue iaz! Yak, kembali ke IRM. Adik kelas saya yang memimpin acara tersebut, dan saya yang menjadi penyambut kedua yang memberikan sepatah dua patah, tiga patah, empat patah, dan seterusnya kata. Eh jangan banyak-banyak nyebut patah, itu nama teman bapak saya. Patah kata pertama, saya memberi salam. Dan seterusnya saya tidak ingat, karena tidak saya simpan kertas yang berisi kata sambutan dari saya itu. Buat apa juga saya simpan? Buat bungkus gorengan? Saya kan bukan tukang gorengan. Dan setelah pengambilan suara, saya ijin keluar ruangan karena lapar, dan mau jajan. Dan jajan makanan. Dan pastinya setelah jajan makanan saya makan jajanan tersebut. Kalau tidak saya makan, buat apa saya jajan makanan tersebut? Ketika kembali ke ruangan, sudah terpilih ketua baru yang menggantikan saya. Segera saya ucapkan selamat dan selamat berjuang untuk membela negara!
Saya meneruskan perjalanan saya untuk berjuang melawan UN. Belajar baik-baik. Dan alhasil saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Yang sebenarnya sedikit di bantu oleh contekan. Dan ini rahasia, jangan di kasih tau siapa-siapa ya buat yang baca. Kemudian saya meneruskan kembali perjuangan saya mengabdi pada negara dengan melanjutkan belajar ke Sekolah Menengah ke Atas, di SMA 103 Jakarta Timur. Tiga tahun saya harus mendekam di cepetiga, begitu sebutan untuk sekolah saya. Dengan berbekal sedikit otak yang masih tersisa, saya perdalam pelajaran yang beberapa baru saya jumpai. Seperti Kimia, Geografi, Sosiologi dan Fisika serta Ekonomi. Karena sewaktu di SMP pelajaran itu tergabung dalam pelajaran IPA dan IPS. Saya serius menekuni Fisika dan Kimia. Karena terlau tekun sampai-sampai saya tidak masuk IPA saat penjurusan ke kelas 2 SMA. Dan karena hasil psikotes juga meramalkan saya masuk IPS, jadilah saya di IPS. Saya heran dengan psikotes, kenapa dia bisa meramal saya akan masuk IPS. Siapa psikotes itu? Dan apa dia bisa bernapas? Akan saya cari siapa psikotes itu. Tapi saya ucapkan dulu terima kasih pada psikotes, karena ramalannya benar dan akurat "terima kasih klinik fang tong".
Tiba penerimaan murid baru dan IRM harus turun tangan untuk proses MOS. Setiap hari ada saja rapat yang dilaksanakan setelah pulang sekolah. Saya juga jadi ada alasan untuk pulang terlambat sama ibu saya, biarpun terkadang saya bukan rapat, melainkan main. Yes! Murid baru banyak juga yang mendaftar. Saya sebagai ketua harus datang lebih pagi dari semua anggota saya. Selalu saya berkumandang dalam hati kenapa saya jadi ketua ya tuhaaaan?? apa salah saya? yang seharusnya saya bisa berangkat lebih telat dari ini...tapi yasudah, saya jalani saja apa pun yang sudah terjadi pada saya. Soalnya lumayan juga jadi eksis. Sebenarnya saya tidak suka keeksissan, tapi memang sudah takdir saya mau bagaimana lagi? Lalu berlalu lah sudah masa MOS anak baru. Banyak yang saya kerjain juga. Banyak yang lucu-lucu juga. Ada satu anak, dia ternyata sepupunya sofyan temen saya, namanya Ricky. Duuuh bibit ganteng banget itu bocah, Sayang BERONDONG. Iya, BERONDONG. Dan satu hal yang saya ingatkan di sini, jangan pernah asal ngomong, nanti bisa kemakan omongan sendiri. Sedikit cerita, saya pernah bilang "gak banget pacaran sama BERONDONG". Dan saat saya naik ke kelas 3, saya punya pacar BERONDONG. Pacar cinta-cintaan monyet. Selesai masa jabatan saya.
Bersyukur menjabat selama setahun menjadi yang dimintai tanda tangan untuk kegiatan yang ada di sekolah. Dan karena itu saya jadi kenal semua pengurus yang ada di sekolah saya. Karena sekolah saya itu di gabung dengan SMAnya, saya juga jadi kenal banyak kakak kelas dari SMA. Lumayan buat cuci mata kalo lagi rapat bareng pengurus SMA. Saya juga jadi di kenal sama masyarakat hampir satu sekolah. Sampai tukang es di sekolah saya juga kenal sama saya. Yang saya bingung, emangnya tukang es di sekolah saya termasuk pengurus juga ya? Kok dia bisa kenal saya ya? Saya juga kenal sih sebenernya, nama tukang es itu Mang Kodir. Saya kan bisa kenal karena dia juga mengenal saya. Dan memang es dia itu paling di serbu sama masyarakat di sekolah saya. Selain murah, enak. Biarpun sehabis minum itu kadang bikin tenggorokan minta di garuk.
Kembali diadakan pergantian pengurus IRM. Saya mengundang adik-adik kelas saya. Seperti yang saya tulis tadi, saya pernah punya pacar BERONDONG. Saya kasih tau inisial namanya Dimas Catur Prasetyo. Saya heran kenapa inisial bisa panjang banget begitu ya? Dia juga saya undang, bersama temannya yang saya ingat Diaz dan ada Iqbal. Saya beri tau sesuatu, yang namanya Diaz itu termasuk salah satu fans saya lho. Saya sih sudah terbiasa mempunyai fans, jadi ya saya anggap teman saja dia. Kalau suatu saat Diaz baca tulisan ini, "ngaku gak lo kalo ngefans sama gue! Biar gue gak malu udah cerita begini. Oke?". Namanya itu Diaz zantos. Sekali lagi Diaz Zantos, yang katanya nama belakangnya itu kalo tidak salah nama dari ayahnya. Dan kenapa saya sedikit ceritakan tentang Diaz di sini, itu karena dia pernah menanyakan "cerita tentang gue ada gak?" maka saya tulis sedikit di sini, dan apa sih yang nggak buat fans. Dan jangan lupa makasih lo sama gue iaz! Yak, kembali ke IRM. Adik kelas saya yang memimpin acara tersebut, dan saya yang menjadi penyambut kedua yang memberikan sepatah dua patah, tiga patah, empat patah, dan seterusnya kata. Eh jangan banyak-banyak nyebut patah, itu nama teman bapak saya. Patah kata pertama, saya memberi salam. Dan seterusnya saya tidak ingat, karena tidak saya simpan kertas yang berisi kata sambutan dari saya itu. Buat apa juga saya simpan? Buat bungkus gorengan? Saya kan bukan tukang gorengan. Dan setelah pengambilan suara, saya ijin keluar ruangan karena lapar, dan mau jajan. Dan jajan makanan. Dan pastinya setelah jajan makanan saya makan jajanan tersebut. Kalau tidak saya makan, buat apa saya jajan makanan tersebut? Ketika kembali ke ruangan, sudah terpilih ketua baru yang menggantikan saya. Segera saya ucapkan selamat dan selamat berjuang untuk membela negara!
Saya meneruskan perjalanan saya untuk berjuang melawan UN. Belajar baik-baik. Dan alhasil saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Yang sebenarnya sedikit di bantu oleh contekan. Dan ini rahasia, jangan di kasih tau siapa-siapa ya buat yang baca. Kemudian saya meneruskan kembali perjuangan saya mengabdi pada negara dengan melanjutkan belajar ke Sekolah Menengah ke Atas, di SMA 103 Jakarta Timur. Tiga tahun saya harus mendekam di cepetiga, begitu sebutan untuk sekolah saya. Dengan berbekal sedikit otak yang masih tersisa, saya perdalam pelajaran yang beberapa baru saya jumpai. Seperti Kimia, Geografi, Sosiologi dan Fisika serta Ekonomi. Karena sewaktu di SMP pelajaran itu tergabung dalam pelajaran IPA dan IPS. Saya serius menekuni Fisika dan Kimia. Karena terlau tekun sampai-sampai saya tidak masuk IPA saat penjurusan ke kelas 2 SMA. Dan karena hasil psikotes juga meramalkan saya masuk IPS, jadilah saya di IPS. Saya heran dengan psikotes, kenapa dia bisa meramal saya akan masuk IPS. Siapa psikotes itu? Dan apa dia bisa bernapas? Akan saya cari siapa psikotes itu. Tapi saya ucapkan dulu terima kasih pada psikotes, karena ramalannya benar dan akurat "terima kasih klinik fang tong".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar