Kamis, 13 Juni 2013

Mamank itu Lapumai


       Saya itu bukan anak nongkrong, dan saya tidak suka nongkrong. Sekali lagi saya katakan, eh maksud saya tuliskan, saya bukan anak nongkrong. Sampai saya punya sebutan, “Catur si anak nongkrong”. Padahal saya itu cuma suka kongkow bersama teman SMA saya. Kata orang kongkow itu sama saja dengan nongkrong, masa? Kalau begitu ya berarti sama. Semasa saya kelas 3 SMA, saya sering sekali nongkrong bareng anak Mamank. Kalau kalian bertanya apa itu Mamank? Eh maksud saya Siapa itu Mamank? Mamank itu Lapumai. Dialah Mpunya tempat nongkrong saya dan teman-teman saya. Dan anak-anak Mamank itu ya anak Lapumai. Kami sangat berterima kasih pada Mamank karena sudah menyediakan tempatnya untuk kami nongkrong. Mamank bernama Itank. Dan istrinya biasa di pangil cece (baca: dalam logat sunda). Dan Mamank juga sebagai sebutan untuk tempat nongkrongnya. Mamank berlokasi di samping SMA saya, persis disampingnya hanya saja dibatasi oleh kali kecil. Berbentuk warung sederhana yang cukup untuk menampung kami anak Mamank dan para tukang ojek yang biasa mesen kopi di sana. Ada sebagian ruangan di Mamank itu yang bisa di pakai saya atau anak-anak Mamank duduk santai di dalam warung. Daripada di luar, teman saya hampir perokok semua, jadi saya suka memilih di dalam saja.
       Setiap pulang sekolah saya sempatkan ke Mamank, sekalian menunggu jam les. Ketika jam les tiba yang sebenarnya belum tiba, saya berangkat ke tempat les bersama Iyo yang jam lesnya lebih dulu dari saya. Saya menunggu di tempat les untuk selanjutnya. Dan pulang dari tempat les bisa sampai malam karena main dulu. Waktu itu juga saat saya dan teman-teman saya lulus-lulusan, kami mencoret-coret baju, dengan tujuan...............dengan tujuan apa ya sebenarnya? Oh kalau menurut saya hanya untuk kenang-kenangan saja karena mereka menandatangani baju saya. Kami melakukan itu di Mamank, di mana saat itu masih banyak guru yang berkeliaran. Sampai akhirnya kami kena tegor oleh satpam sekolah kami yang melihat kelakuan kami itu. Dan satpam pun mengadukan pada kesiswaan. Tak beberapa lama kemudian dua ibu kesiswaan datang menghampiri kami. Karena saya tidak ingin terkena urusan lagi dengan mereka, saya sembunyi di dalam Mamank. Saya sudah di anggap yang tidak-tidak karena saya sudah pernah ketahuan nongkrong. Mungkin mereka takut saya terpengaruh dengan mereka yang tidak baiknya, padahal itu kan tergantung dari orangnya juga. Saya tidak mudah terpengaruh kalau memang itu untuk perbuatan yang sangat tidak baik. Ya sudah, saya mengintip dari dalam Mamank teman-teman saya kena ceramah. Dan saya baru keluar setelah saya melepas baju seragam saya yang sudah penuh coretan. Daripada saya kena ceramah juga. Setelah diceramahi kami melanjutkan coret mencoret baju di Warkun atau singkatan dari Warung Kuningan, yang terletak di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Sambil makan siang juga sekalian. Dan masih banyak kejadian yang ada di Mamank.
Anak Mamank sudah banyak sekali, saya tidak mungkin menyebutkannya satu-satu, karena saya juga tidak ingin. Mungkin beberapa bisa saya sebutkan, seperti Vandra yang biasa saya panggil bang bews. Bews itu artinya bewok, karena Vandra adalah lelaki berbewok. Yang sebenarnya itu bukan bewok, melainkan bulu hidung dan bulu ketek yang sering dia cabuti lalu dia kumpulkan dan di cangkok menjadi bewok. Lalu ada Kutaro, yang di panggil Iyo. Jangan tanya kenapa bernama Kutaro tapi di panggil Iyo, karena saya tidak tahu apa alasannya. Bahkan Iyo pun belom tentu tahu kenapa bisa begitu. Iyo itu cowok sehat bertubuh cungkring, dan SINGLE dengan catatan pernah jadian dengan teman saya yang namanya tidak boleh disebutkan, yaitu Sarah, selama 6 hari. Namun Iyo punya kelebihan pada bakatnya. Dia jago nge-dance, dan cuma itu yang cukup membanggakan dari Iyo. Oh iya, satu lagi kelebihan Iyo, yaitu tulisannya yang hanya dia dan Tuhan yang mengerti. Lalu ada Imam atau Tumin atau Taufik atau Muhammad. Dia lelaki yang tubuhnya berisi atau sedikit gempal. Berwarna kulit sawo kematangan, sangking matangnya sampai berwarna sedikit hitam. Mempunyai wajah yang katanya dia itu tampan, yang sebenarnya tidak bisa dideskripsikan bagaimana wajahnya. Mempunyai pacar yang bernama Woro yang cantik. Sampai sekarang saya heran kenapa Woro bisa jadi pacarnya Imam? Apakah Woro sudah tidak waras? Sadarlah Woroooo!! Kemudian ada Denbra, dia bernama asli Denny. Berambut kribo, yang biasanya di pakai untuk menyelipkan sesuatu. Bahkan dia tidak membutuhkan dompet sebenarnya, karena cukup lah dia letakkan duitnya di rambut, tidak ada yang tahu juga kalau dia menyimpan duit di sana. Seperti hutan belantara rambutnya. Kelebihan yang dimiliki Denny itu selain rambut, dia sempat menjadi atlet taekwondo. Dan yang saya ingat, cerita tentang dia semasa mengikuti lomba taekwondo adalah ketika jarinya dia patah.
Ada Rasil yang biasa di panggil Acil. Cowok yang satu ini bertubuh ideal, hanya saja saat ini dia sedang mengalami kegemukkan. Dia suka mengkhayal, tapi khayalannya terkadang seru dan saya jadi suka ikutan mengkhayal juga. Ada Oni, dia cowok yang sangat kekurangan daging. Tapi kelebihan yang dia punya itu adalah gambar. Saya suka gambar-gambar yang dia buat. Sangat kreatif dan bagus. Itu kelebihan dari Oni, namun kekurangannya adalah otaknya mungkin. Gue prihatin ni, huft~. Ada juga Eky, dia pacar dari teman saya yang bernama Cerly. Kelebihan dari Eky saya tidak tahu, mungkin kelebihan Eky itu adalah kelakuannya. Kelakuannya yang tidak beda jauh beda dengan Oni. Ada Danang, dia lebih sedikit normal dari anak Mamank yang lain, mungkin. Tapi terkadang tidak juga sih. Hanya saja Danang ini jagonya di bidang musik. Saya bisa bengong kalau melihat dia sedang main piano, jago soalnya. Wah iya, ada Viko yang biasanya menjadi partner saya kalau mau kemana-mana. Karena dia sudah kuliah di Bandung, jadi kalau dia sedang di Bekasi saja baru bisa berpartner lagi. Ibu saya pun sudah mengenal Viko. Pernah suatu malam saya baru pulang dari Mamank, yang mana saat itu kalau tidak salah sudah sekitar jam 10an malam. Viko yang bertanggung jawab saat itu, karena dia yang mengajak saya ke Mamank. Yang mana saat itu kebetulan saya belum menginjakkan kaki sama sekali di rumah. Dan dia kena omel habis-habisan oleh bapak dan ibu saya, terima kasih Viko, lain kali lagi ya?
Dan yang satu ini nama panggilannya Payung, entah kenapa dia di panggil Payung. Padahal nama aslinya itu Rizky Annisa, yang aslinya lagi itu Nur. Cewek yang cantik namun sebenarnya itu hanya bohongan. Lalu bertubuh sedikit lebar. Dengan rambut panjang yang suka minta dimainin sama saya. Dan dulu waktu saya belum kenal dia, saya hanya sekedar tahu dia, saya sangat tidak suka dengannya. Entah kenapa kalau melihat Payung tidak ada bagus-bagusnya. Tapi ketika kelas tiga saya malah berteman dengan dia. Sering bareng kalau ke tempat les juga. Dan itulah Payung, yang punya pacar berondong bernama Abiyan Fachri. Dan Fachri punya kembaran yang katanya tidak suka dengan Payung. Saya pikir, kenapa dia harus tidak suka? Kan yang jadi pacarnya si Fachri. Yang satu ini cowok yang sebenarnya ganteng, hanya saja kelakuannya juga sedikit minus. Yang sebenarnya memang anak Mamank berkelakuan minus semua. Dia bernama Ucup, atau Yusuf. Yang terkenal dari dia itu bapaknya yang menjadi kepala sekolah di SMP tetangga yang tidak jauh dari cepetiga. Sya pernah di kira pacaran sama Ucup hanya karena saya pernah ketahuan sedang berpura-pura pacaran dengan Ucup, eh dikiranya pacaran beneran. Sampai guru-guru dan mantan wali kelas saya menanyakan “Catur, gimana sama Ucup?”.

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya ceritakan lagi, tapi saya menulis ini sudah mendekati maghrib dan saya harus solat sebagai muslimah yang taat pada agama. Dan sebenarnya juga sudah capek mau menceritakan siapa-siapa lagi, yang sebenarnya masih ada Baber, Seto, Bejo, Fatih, Densoek, Suryo, Irwin, dan masih banyak lagi. Saya tidak sanggup menceritakan semua tentang anak Mamank, karena ada hawa gaib yang menemani saya ketika saya menceritakan mereka. Karena mereka pengikut Eyang Itank. Demi Mamaaaaank!!!!!

Menuju Mahasiswa

        Alhamdulillah saya masuk SMA negeri yang terletak di Jakarta Timur, yaitu SMA Negeri 103. Berkat usaha dan kerja keras saya mengerjakan soal UN ketika SMP, berusaha keras agar contekan saya tidak ketahuan oleh pengawas, padahal saya duduk itu di pojok kanan depan, namun karena saya mempunyai keberanian yang cukup tinggi, saya berhasil menyontek tanpa ketahuan. Tapi itu juga saya bukan menyontek yang benar-benar melihat pada contekan, hanya kalau kepepet saja saya meihat contekan. Sekali lagi, hanya kalau kepepet lho. Dan kebetulan hampir semua kepepet saat itu, maksud saya para siswanya hampir semua kepepet, jadi hampir semua nyontek. Tapi ya alhamdulillah lah saya lulus dan SMP saya lulus seratus persen. Saya memasuki masa-masa orientasi siswa di cepetiga (sebutan untuk SMA dimana saya bersekolah di sana), selama 3 hari berturut-turut. Dari pagi hingga sore saya menempuh masa orientasi atau yang biasa di sebut MOS. Setelah melalui MOS mulailah saya memasuki hari pertama bersekolah di cepetiga. Saya sekelas dengan tetangga saya, dia bernama Hafizh, Muhammad Hafizh Naufal, di panggilnya Apis. Orangnya tinggi, kurus, mirip ibunya, karena dia memang anak ibunya yang bernama Ibu Dewi, alhamdulillah pis. Saya sempat di panggil tante oleh teman-teman saya karena saya sudah mempunyai keponakan saat itu. Dan si Apis dijadikan om-nya, padahal saya gak minta, tapi teman-teman saya terlalu kreatif sehingga mereka berinisiatif sendiri.
       Saat diadakan psikotes untuk menentukan jurusan apa yang cocok untuk saya di kelas sebelas nanti, saya berharap bisa diberikan hasil kalau saya cocok di IPA. Hasil keluar. Saya IPA? Gak mungkiiiiiiin, saya ingin IPA tapi saya sadar kalau saya tidak bisa pelajaran IPA, dan hasil psikotes menjawab dengan jujur dan dengan penuh pengertian, saya IPS. Hari pertama saya menjalani hidup saya di kelas sebelas itu dengan mengikuti upacara di hari Senin. Kenapa upacara itu hari Senin? Kenapa gak Jumat atau Rabu? Oke, gak usah terlalu dipikirin, nanti depresi sendiri. Saya sempat bingung ingin berbaris dibarisan kelas yang mana, karena saya rada telat sampai sekolahnya. Tapi saya bertemu dengan teman sekelas saya yang juga sedikit telat saat itu, namanya Aulia, saya memanggilnya Aul, karena gak mungkin saya manggil dia Jon. Dan berhasil menemukan barisan kelas saya. Muka-muka baru yang belum saya kenal sepenuhnya. Upacara selesai, belajar di mulai. Saya duduk dengan Ghina, teman saya waktu kelas sepuluh juga. Hari demi hari terus berlanjut. Saya mulai mengenal satu sama lain dengan baik. Dan kelas saya punya nama lho, namanya Acrevone. Acrevone itu singkatan, singkatan dari Awesome Crew of Eleven Social One, the best class I ever had. Oh iya, wali kelas saya itu guru Akuntansi-Ekonomi, beliau bernama Ibu Retno, “hidup bu Retno!!” itu selogan yang selalu saya ucapkan ketika bertemu beliau. And she’s the best wali kelas I ever had too. Saya lupa bahasa Inggris wali kelas apa. Bukan lupa sih, lebih tepatnya gak tau. Di Acrevone kita punya temen spesial, bukan kita doang sih, tapi ya cepetiga yang punya. Tapi khususnya di angkatan saya, dan di kelas saya. Dia seorang lelaki dengan tubuh yang gemuk, dan tinggi biasa aja, dia bernama Setiawan Utama, di panggil Tama atau Tamjak. Selalu saya dan yang lain mengucapkan untuk Tama, dan semoga suatu saat Tama baca ini “kita kangen elu tam, kapan main lagi? Udah sehat kan? Kangen banget banget banget tam sama lo”. Kenapa spesial? Dia temen kita yang baik, humoris, dan gak nyangkanya dia diberitakan terkena kanker darah atau Leukimia. Bukan diberitakan lagi sebetulnya, tapi memang benar seperti itu. Alhamdulillahnya sakitnya Tama ini cepat diketahui dan cepat ditangani, jadi belum sampai menyerang Tama lebih jauh lagi. “Semangat Tamjak!!” J
       Berlanjut lagi saya memasuki kelas dua belas. Di kelas ini saya merasakan cukup nyaman, hanya cukup. Karena terlihat sekali anak-anaknya berkumpul sendiri-sendiri, tidak berbaur jadi satu. Tapi tetap bersyukur saja, karena jadi sekelas sama yang seblumnya belum sekelas. Beberapa ada yang dari kelas sebelas sekelas lagi dengan saya, seperti Nita, Viko, Bocil, Ian, Gunawan, Gerald, banyak sih lumayan. Karena ini bukan absen, jadi saya gak mungkin mau nyebutin satu-satu nama mereka. Ada juga yang dari kelas sepuluh terus sekelas lagi, ada Dewanti, Dhanny, Bismo, Denbra, dll. Dan yang saya suka itu saya sekelas sama Imam dan Rio Batak, mereka hampir setiap hari bikin saya ketawa. Ibaratnya gak ada mereka kelas bakal kayak di sawah waktu tengah malem. Terkadang mereka ngelawak dengan berpura-pura Imam itu suami saya, lalu kalau saya dekat-dekat dengan temen saya yang cowok yang lain, dia akan langsung menendang meja atau kursi, seakan-akan cemburu. Begitu pula saya, saya juga suka begitu ketika dia mendekati teman saya yang bernama Meytri. Atau mereka ngelawak di depan kelas, itu sangat berguna bagi kelas saya yang sedikit garing. Tidak terasa sudah mau menuju UN. Saya tidak pernah serius belajar, apa lagi di pelajaran Matematika. Padahal guru Matematikanya itu adalah wali kelas saya. Tapi kalau ada penghargaan buat guru tersabar di cepetiga, saya akan kasih ke wali kelas saya ini, yang bernama Ibu Nursyamsi. Karena ketika dia mengajar, terus tidak ada yang memperhatikan dia, dia tetap mengajar di depan dan mengajarkan yang memperhatikan saja. Dan saya tentu termasuk yang tidak memperhatikan. Tapi dia sangat mengenal saya, karena saya bendahara kelas, jadi wajar dia kenal saya. Ada satu guru yang sangat suka meledek suara saya. Dia itu Ibu Sudinar, guru bahasa Inggris. Kata dia, “saya itu suka suara Catur, cempreng-cempreng gimana gitu kalau sudah tereak-tereak” (maksudnya teriak-teriak). Saya hanya bisa ikhlas. Lalu UN tiba. Saya lulus. Dan tinggal menuju ujian SNMPTN. Saya melewati liburan di bulan-bulan pertama saya dengan les untuk SNMPTN, di tempat les dekat sekolah saya, dengan gurunya yang bernama Pak Bamz dan Pak fasni yang kece-kece. Terutama Pak Fasni yang suka ngejejelin bulu keteknya ke saya, astaghfirullah Fasniiii, Fasniiii.

SNMPTN pun saya lalui dengan santai. Saya santai karena saya tidak mengerti dengan soal SNMPTN tersebut. Biarpun saya sudah berulang kali latihan SNMPTN di tempat les. Dan beberapa lama kemudian saya menerima hasil dari ujian SNMPTN tersebut, dan saya TIDAK LULUS. Terima kasih ya Allah, terima kasih tuhan, terima kasih bapak ibu saya, terima kasih semua guru cepetiga, terima kasih guru-guru di tempat les. Sebelum menerima hasil SNMPTN saya sudah memegang kampus cadangan di Universitas Gunadarma dengan menggunakan beasiswa. Jadi memang saya sudah digariskan untuk bertemu teman-teman kuliah saya mungkin. Teman-teman kuliah saya yang kece-kece badai, pesan saya tolong tuntun saya ke arah yang benar, karena selama ini saya belum benar otaknya. Mungkin itu memang pesan yang seharusnya saya sampaikan ke mereka. Namun itu mustahil. Karena teman-teman kuliah saya pun sejenis dengan saya. Makhluk omnivora yang menginginkan kebahagiaan selalu di sela-sela hari yang dilewati, itulah saya. Dan teman-teman saya sepertinya juga begitu. Semua teman saya ya. Karena semua teman saya hampir sejenis semua. Tidak apa-apa, yang penting uuuuuulala uhuy~

Jumat, 07 Juni 2013

SMP Muhammadiyah 50 yang ada IRMnya

Saya terpilih menjadi ketua IRM, tingkat ranting. Anda tau IRM? Dan kenapa ranting? Itu semacam OSIS di sekolah, tapi di SMP saya namanya IRM singkatan dari Ikatan Remaja Muhammadiyah, dan ranting itu tingkatan untuk yang paling rendah sebelum cabang, sampai ke pusat. Kenapa Muhammadiyah? Karena SMP saya di sana. Saat itu saya masih kelas 2 SMP, dimana sedang diadakan pergantian pengurus IRM. Kebetulan saya bersekolah di sana, saya ikutan aja. Dan saat kelas 1 saya sudah menjadi anggota. Ketika diadakannya pergantian pengurus ini, saya terpilih menjadi kandidat calon ketua. Saya kira terpilih menjadi kandidat calon suaminya Brad Pitt atau Jhonny Deep, tidak taunya calon ketua. Ya sudahlah, saya ikuti prosesnya. Beberapa teman saya juga ikutan dalam acara ini. Ada Irene, Azmi, Cerly, Feby, Abel, Giwang, Sofyan, banyak deh. Adik kelas juga banyak yang mendaftar untuk masuk menjadi anggota baru. Saat itu yang saya ingat ada Mela, Rhysa, Diaz, Dimas, Annisa, siapa lagi ya? Haduh saya gak sempet nanyain satu-satu nama mereka sih, jadi gak tau semua. Dan mulailah pemilihan calon ketua. Lalu penghitungan suara di mulai. Saya berharap untuk tidak terpilih, ternyata malah terpilih, tapi alhamdulillah. Dan wakil saya adalah Feby. Sekretaris saya Iren, sama siapa ya waktu itu? Udah lupa saya, maklumin lah ya. Saya menggantikan posisi Salim yang sebelumnya dia lah ketuanya. Salim menyerahkan berkas-berkas IRM kepada saya, disaksikan pembina IRM yang waktu itu masih di pegang oleh Ibu Cherty.

Tiba penerimaan murid baru dan IRM harus turun tangan untuk proses MOS. Setiap hari ada saja rapat yang dilaksanakan setelah pulang sekolah. Saya juga jadi ada alasan untuk pulang terlambat sama ibu saya, biarpun terkadang saya bukan rapat, melainkan main. Yes! Murid baru banyak juga yang mendaftar. Saya sebagai ketua harus datang lebih pagi dari semua anggota saya. Selalu saya berkumandang dalam hati kenapa saya jadi ketua ya tuhaaaan?? apa salah saya? yang seharusnya saya bisa berangkat lebih telat dari ini...tapi yasudah, saya jalani saja apa pun yang sudah terjadi pada saya. Soalnya lumayan juga jadi eksis. Sebenarnya saya tidak suka keeksissan, tapi memang sudah takdir saya mau bagaimana lagi? Lalu berlalu lah sudah masa MOS anak baru. Banyak yang saya kerjain juga. Banyak yang lucu-lucu juga. Ada satu anak, dia ternyata sepupunya sofyan temen saya, namanya Ricky. Duuuh bibit ganteng banget itu bocah, Sayang BERONDONG. Iya, BERONDONG. Dan satu hal yang saya ingatkan di sini, jangan pernah asal ngomong, nanti bisa kemakan omongan sendiri. Sedikit cerita, saya pernah bilang "gak banget pacaran sama BERONDONG". Dan saat saya naik ke kelas 3, saya punya pacar BERONDONG. Pacar cinta-cintaan monyet. Selesai masa jabatan saya.

Bersyukur menjabat selama setahun menjadi yang dimintai tanda tangan untuk kegiatan yang ada di sekolah. Dan karena itu saya jadi kenal semua pengurus yang ada di sekolah saya. Karena sekolah saya itu di gabung dengan SMAnya, saya juga jadi kenal banyak kakak kelas dari SMA. Lumayan buat cuci mata kalo lagi rapat bareng pengurus SMA. Saya juga jadi di kenal sama masyarakat hampir satu sekolah. Sampai tukang es di sekolah saya juga kenal sama saya. Yang saya bingung, emangnya tukang es di sekolah saya termasuk pengurus juga ya? Kok dia bisa kenal saya ya? Saya juga kenal sih sebenernya, nama tukang es itu Mang Kodir. Saya kan bisa kenal karena dia juga mengenal saya. Dan memang es dia itu paling di serbu sama masyarakat di sekolah saya. Selain murah, enak. Biarpun sehabis minum itu kadang bikin tenggorokan minta di garuk.

Kembali diadakan pergantian pengurus IRM. Saya mengundang adik-adik kelas saya. Seperti yang saya tulis tadi, saya pernah punya pacar BERONDONG. Saya kasih tau inisial namanya Dimas Catur Prasetyo. Saya heran kenapa inisial bisa panjang banget begitu ya? Dia juga saya undang, bersama temannya yang saya ingat Diaz dan ada Iqbal. Saya beri tau sesuatu, yang namanya Diaz itu termasuk salah satu fans saya lho. Saya sih sudah terbiasa mempunyai fans, jadi ya saya anggap teman saja dia. Kalau suatu saat Diaz baca tulisan ini, "ngaku gak lo kalo ngefans sama gue! Biar gue gak malu udah cerita begini. Oke?". Namanya itu Diaz zantos. Sekali lagi Diaz Zantos, yang katanya nama belakangnya itu kalo tidak salah nama dari ayahnya. Dan kenapa saya sedikit ceritakan tentang Diaz di sini, itu karena dia pernah menanyakan "cerita tentang gue ada gak?" maka saya tulis sedikit di sini, dan apa sih yang nggak buat fans. Dan jangan lupa makasih lo sama gue iaz! Yak, kembali ke IRM. Adik kelas saya yang memimpin acara tersebut, dan saya yang menjadi penyambut kedua yang memberikan sepatah dua patah, tiga patah, empat patah, dan seterusnya kata. Eh jangan banyak-banyak nyebut patah, itu nama teman bapak saya. Patah kata pertama, saya memberi salam. Dan seterusnya saya tidak ingat, karena tidak saya simpan kertas yang berisi kata sambutan dari saya itu. Buat apa juga saya simpan? Buat bungkus gorengan? Saya kan bukan tukang gorengan. Dan setelah pengambilan suara, saya ijin keluar ruangan karena lapar, dan mau jajan. Dan jajan makanan. Dan pastinya setelah jajan makanan saya makan jajanan tersebut. Kalau tidak saya makan, buat apa saya jajan makanan tersebut? Ketika kembali ke ruangan, sudah terpilih ketua baru yang menggantikan saya. Segera saya ucapkan selamat dan selamat berjuang untuk membela negara!

Saya meneruskan perjalanan saya untuk berjuang melawan UN. Belajar baik-baik. Dan alhasil saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Yang sebenarnya sedikit di bantu oleh contekan. Dan ini rahasia, jangan di kasih tau siapa-siapa ya buat yang baca. Kemudian saya meneruskan kembali perjuangan saya mengabdi pada negara dengan melanjutkan belajar ke Sekolah Menengah ke Atas, di SMA 103 Jakarta Timur. Tiga tahun saya harus mendekam di cepetiga, begitu sebutan untuk sekolah saya. Dengan berbekal sedikit otak yang masih tersisa, saya perdalam pelajaran yang beberapa baru saya jumpai. Seperti Kimia, Geografi, Sosiologi dan Fisika serta Ekonomi. Karena sewaktu di SMP pelajaran itu tergabung dalam pelajaran IPA dan IPS. Saya serius menekuni Fisika dan Kimia. Karena terlau tekun sampai-sampai saya tidak masuk IPA saat penjurusan ke kelas 2 SMA. Dan karena hasil psikotes juga meramalkan saya masuk IPS, jadilah saya di IPS. Saya heran dengan psikotes, kenapa dia bisa meramal saya akan masuk IPS. Siapa psikotes itu? Dan apa dia bisa bernapas? Akan saya cari siapa psikotes itu. Tapi saya ucapkan dulu terima kasih pada psikotes, karena ramalannya benar dan akurat "terima kasih klinik fang tong".

Kamis, 06 Juni 2013

Enur??

Kalau mikirin tentang saya ini siapa, sekali lagi saya ingatkan, saya ini cuma seonggok manusia yang berjenis kelamin perempuan, alhamdulillah memakai kerudung, karena rambut itu merupakan salah satu aurat yang harus di tutup oleh perempuan, dan saya punya 3 buah kakak. Kakak pertama saya bernama Anggoro Suryo Rini, berjenis kelamin wanita lhoooo, biar namanya sedikit jantan tapi dia ini betina tulen. Terlahir pada malam hari, di saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-37 tahun. Berwarna kulit putih, dan kecil, karena kalau terlahir dengan ukuran yang sudah seperti saya sekarang, mungkin ibu saya akan langsung memasuki kakak saya ke museum, karena melahirkan anak langka dengan ukuran tubuh yang tidak biasa. Tapi karena itu semua tidak mungkin, jadi tidak penting saya ceritakan di sini. Dan kakak pertama saya itu sudah menikah dengan suaminya, seorang pria. Tentu saja seorang pria. Dan berprofesi sebagai bapak keamanan alias Polisi (lumayan buat bahan nakutin Polisi di jalan yang suka nilang saya). Alhamdulillah juga sudah mempunyai dua anak yang berjenis kelamin sama seperti saya dua-duanya. Tapi tidak bermuka sama dengan saya, karena kalau sama dengan saya mungkin kakak saya akan langsung menjadikan bayinya model. Ya! Model! Model sampul majalah tumbuh-tumbuhan.

Ketika mikirin lagi tentang siapa saya? Saya perempuan yang mempunyai dua mata, satu hidung, dua telinga, dua tangan, dua kaki, satu kepala, dan tentu saya punya nyawa, alhamdulillah. Dan saya juga punya kakak kedua yang ingin saya ceritakan tentangnya. Dia seorang wanita lagi, dengan kulit yang sawo matang, agak kematangan dikit, alhamdulillah menggunakan kerudung juga. Oh iya, kakak pertama saya yang tadi juga memakai kerudung alhamdulillah. Kakak saya yang kedua ini mempunyai masa kecil yang lain dari yang lain. Karena dia seorang wanita super waktu masih kecilnya. Saya mendapatkan cerita dari ibu saya, kalau kakak sya yang kedua ini pernah membelah sepeda menjadi dua. Saya terkesan mendengarnya. Saya sempat berpikir, apakah kakak saya ini titisan superwoman? Tapi tentu saja tidak! Karena dia tidak punya kostum superwoman. Kakak kedua saya ini bernama Dwi Ratri Utami, nama yang menggambarkan dia seorang wanita namun kelakuan sedikit melengos waktu kecilnya. Terbalik dengan kakak pertama saya. Kakak kedua saya terlahir di bidan (insya Allah) di bulan April, dua hari setelah kelahiran Ibu Kita Kartini. Dia juga telah menikah, alhamdulillah sekali dengan seorang pria juga. Sudah mempunyai dua orang anak juga, yang mana anak pertamanya berkelakuan tidak jauh beda dengan ibunya di masa ibunya kecil dulu. Kalau anak keduanya sedikit cengeng, mungkin meniru bapaknya, saya tidak tahu karena saya tidak pernah bertanya juga bagaimana masa kecil kakak ipar saya. Dan mungkin saya tidak akan menanyakannya pula. Itu tidak penting kawan.

Saya berpikir kembali dari tadi ternyata saya menceritakan tentang kakak-kakak saya, bukan tentang saya. Jadi, karena saya masih mempunyai satu kakak lagi yang belum saya ceritakan, takut sewaktu-waktu dia baca tulisan saya ini dia marah kalau tidak saya ceritakan, jadi ya saya ceritakan saja ya? Kakak saya yang ketiga ini tidak sama dengan kakak pertama saya, dengan kakak kedua saya, tidak sama juga dengan saya dan ibu saya. Dia samanya seperti bapak saya, karena dia laki-laki. Berwarna kulit yang katanya sebenarnya putih, namun saat baru keluar melihat dunia kesemprot sama tinta cumi. Mungkin kakak ketiga saya lahirnya berbarengan dengan anak cumi-cumi yang baru dilahirkan juga. Cuma yang saya bingung kakak saya itu lahirnya dimana? Kenapa bisa kesemprot tinta cumi? Karena ini cerita bohong, tidak usah saya ceritakan. Dia beernama Putut Lintang Trenggono. Lahir di malam hari, oh mungkin karena dia lahir di malam hari sehngga berkulit gelap. Mungkin. Menurut saya, dia tidak mempunyai masa kecil yang heboh seperti kakak kedua saya. Hanya saja yang saya ingat tentang kakak ketiga saya, berdasarkan cerita dari ibu saya, semasa kecilnya dia banyak salah mengucapkan kosakata. Seperti "komputer" menjadi "keong puter" atau "satpam" menjadi "satam" dan masih banyak lagi. Mungkin kakak saya sudah berbakat untuk menjadi orang yang jago main plesetan kata seperti yang sering dilakukan pelawak. Kakak saya yang ketiga ini juga sudah menikah di bulan ketiga tahun 2013 ini. Bukan dengan seorang pria yang kali ini, karena kakak ketiga saya seorang pria maka menikahnya dengan seorang wanita, meskipun kakak saya iri dengan kakak saya yang lain yang enikah dengan seorang pria. Belum mempunyai keturunan karena dua-duanya terpisah antar dua pulau. Kakak saya di Pulau Jawa, istrinya berada di Pulau Sumatera. Mereka bertemu hanya seminggu sekali terkadang, jadi tidak ada waktu banya untuk memproduksi anak. Mungkin nanti sewaktu istrinya sudah boleh dipindahkan di Jakarta, baru bisa. Bisa apa? Bisa sering bertemu maksud saya. Dan saya selalu menantikan ponakan baru dari kakak ketiga saya.

Sebenarnya ada satu kakak lagi yang seharusnya bisa saya ceritakan. Mungkin bisa saya ceritakan, tapi tidak banyak cerita tentang dia. Dia kakak saya yang terlahir sebelum saya. Tepat di atas saya setahun. Dia terlahir normal, dengan warna kulit putih bersih, dan ganteng kalau kata ibu saya. Karena dia juga berjenis kelamin laki-laki. Terlahir di bulan awal tahun, tanggalnya saya kurang tau. Dia akan menjadi lelaki tampan saat besar nanti, itu kata ibu saya. Namun Allah berkehendak lain. Dia hanya diberikan waktu sebentar untuk merasakan dunia. Entah berapa lama, tapi hanya hitungan hari. Dan dia kembali kerumahnya, rumah sebelum dia terlahir di dunia. Andai kakak ku ysng itu masih ada sampe sekarang, mungkin saya akan membanggakannya pada teman-teman saya karena dia ganteng. Kapan lagi punya kakak ganteng? Kakak ketiga saya? Gantengnya kalau lagi baik saja dia mah. Setaun setelah itu, di bulan kedua barulah saya muncul untuk meramaikan dunia. Meskipun saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya saya ini anak ibu-bapak saya atau bukan. Karena dulu waktu saya kecil banyak yang berkomentar kalau saya ini tidak mirip dengan ibu-bapak saya. Kakak-kakak saya meledek saya kalau saya ini anaknya Nur tukang sayur. Sampai-sampai di tas sekolah TK saya dulu dituliskan nama "Enur". Padahal nama panggilan kecil saya itu "Enuk" bukan "Enur". Dan si Enur itu numpang eksis saja dituliskan namanya di tas saya. Mungkin kalau orang tuanya Enur tau, akan bangga karena namanya bisa ada di tas saya. Mungkin. Karena saya juga bertanya-tanya kenapa harus bangga? Kenal saja tidak.

Rabu, 05 Juni 2013

Dulu.....

      Kalo denger kata "dulu" itu pasti berhubungan sama masa lalu, karena gak ada kan kita mau nyeritain buat yang bakal kita kerjain di masa depan pake kata "dulu". Tapi bisa juga sih sebenernya, kan terserah kita kan mau ngeluarin kata-kata pake kata apa? Jadi intinya, saya juga gak tau apa maksud dari yang saya tulis. Tapi "dulu" saya pernah punya kelinci, ada dua tuh kelincinya, yang satu warnanya hitam, yang satu lagi warnanya putih. Eh tapi yang warna putih mati "dulu"an gara-gara apa saya juga gak tau, saya gak sempet nanya waktu itu, dia udah mati "dulu"an. Sempet sedih, sama kayak apa yang dirasain sama si kelinci hitam, karena yang biasanya berdua jadi sendirian. Apa lagi kalau ditinggalnya dikarenakan mati, berasa sedihnya tuh sampe mendalam sekali gitu kayaknya.

      Selesai tentang kelinci, "dulu" saya juga pernah waktu SD lagi pulang sekolah tuh, di jalan, ketemu sama bocah SD juga yang sepertinya di bawah saya beberapa tahun. Tapi dia keliatan bandel banget. Pas saya lagi jalan tenang-tenang ada itu bocah sambil bawa-bawa kadal. Dan "dulu" saya takut sama kadal, sampe sekarang juga masih takut sih sebenernya. Tapi pas banget juga "dulu" itu saya lagi bawa raket, soalnya abis ada materi badminton di pelajaran olahraga. Nah bener aja dugaan saya, pasti itu bocah mau melempari saya sama itu kadal "dulu". Secepat kilat tangan saya merefleks nangkis itu kadal pake raket yang saya bawa "dulu". Terlempar lah itu kadal  lumayan jauh. Sedikit merasa kasihan juga sama kadal yang "dulu" itu. Tapi mau gimana lagi? "dulu" udah terlanjur saya lakuin. Mau minta maaf sama kadalnya, lagi-lagi dia udah kelempar "dulu"an. Dan tidak sempat meminta maaf.

      "Dulu" tuh satu kata yang simpel, tapi bisa membawa kita ke berbagai masa. Tapi sekarang ada mantan pengamen cilik yang bikin lagu pake kata "dulu" lho. Banyak pula kata "dulu"nya. Gak kepikiran apa tuh buat bikin lagu pake kata yang lain? kenapa harus "dulu"? Kenapa gak waktu itu? Atau dahulu? Senggaknya bukan kata "dulu". Tapi sebenernya kenapa saya harus komentar tentang itu lagu "dulu" sih? Ngomongin lagu "dulu", gak tau kenapa dari "dulu" saya udah tertarik sama lagu dari band terkenal pada zaman "dulu", yaitu The Beatles. Lagu mereka tuh seakan menyihir saya buat suka sama lagu mereka yang "dulu". Karena gak ada yang sekarang jadi saya sukanya yang "duu". Selain lagu "dulu"nya itu keren dan enak di denger, mereka "dulu" juga masih ganteng-ganteng banget personilnya. Apa lagi yang namanya Paul McCartney. Duh, mukanya gak nahan banget buat bilang dia itu lucu, menarik, atau manis, atau ganteng. Karena memang "dulu" keyataannya begitu. Tapi sekarang udah tua sekali, udah gemuk, udah keriput, tapi tetap dimata saya dia menarik.

      Selesai tentang mantan pengamen cilik dan The Beatles. Sekarang atau "dulu" akan tetap sama jika anda gak mau merubah apa yang ada di masa "dulu". "Dulu" itu bisa menyenangkan atau tidak, namun tetap harus berubah karena kita harus maju dan terus maju ke depan, bukan ke belakang yang akan menyebabkan kita bertemu dengan yang "dulu". Menyenangkannya dari yang "dulu" itu bila ada teman lama, yang "dulu" pernah main bersama, kita mengingatnya dia pernah begini, dia pernah begitu dan lain-lain. Sekali lagi saya ingatkan, "dulu" itu tidaklah selalu menyedihkan. Karena saya juga tidak tahu kapan mengingatkan kalian semua tentang "dulu" itu tidak selalu menyedihkan. Jadi, gak penting juga lah ngebahas yang "dulu" melulu. Soalnya saya gak mau jadi yang "dulu" saya maunya jadi yang "duluan" bukan "dulu". Tapi gak mungkin ada sekarang kalo gak ada "dulu". Jadi, terima kasih "dulu".

      Karena sekarang udah bukan "dulu", saya mau pipis "dulu" aja deh. Daripada nanti saya ngompol kayak "dulu" masih kecil, mending saya pipis "dulu" aja lah ya? Sesudah pipis "dulu", jangan lupa buat cebok "dulu", jangan belom cebok tapi udah keluar kamar mandi, jorok itu namanya. Bagaimana cara saya pipis itu tidaklah penting, karena dari "dulu" yang namanya pipis itu pasti mengeluarkan air seni dari lubang khusus. Jangan bertanya dimana letak lubang khusus tersebut, karena saya tidak mungkin menjelaskan secara detail disini, apalagi menjelaskan menggunakan gambar. Kalau kata orang "dulu" itu suatu hal tabu. Kenapa saya masih terus menulis kalau takut ngompol seperti "dulu"? Pikirin yang sekarang aja lah "dulu" ya?

Selasa, 04 Juni 2013

Catur Sekar Kinasih

      Catur Sekar Kinasih, seseorang atau manusia, atau mahluk hidup yang tinggal di planet bumi, yang berjenis kelamin wanita, dan alhamdulillah normal, hanya saja sikapnya yang sedikit kurang normal, mohon dimaafkan? Kalau tidak mau memaafkan tidak apa-apa. Catur, biarpun bernama Catur, tapi dia tidak suka bermain Catur, karena tidak bisa juga memainkannya. Hidup di bumi dari tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh 4, pada hari yang insya Allah Selasa, pada pagi menjelang siang, pada awalnya bulan Februari, lebih tepaatnya tanggal satu. Pernah mengalami masa Taman Kanak-Kanak atau yang biasa di singkat TK, selama kurang lebih 2 tahun, di TK deket rumah, yang bernama TK Puri Ananda, dimana pernah di cium sama temen kecilnya yang seinget saya bernama Koko. Lalu berlanjut ke Sekolah Dasar, atau yang biasa di sebut SD, selama kurang lebih 6 tahun, gak lebih gak kurang deh, pas. Di SD deket rumah juga yang bernama SD Bintara V. Dilanjutkan kembali ke tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu ke Sekolah Menengah Pertama, atau yang biasa di singkat SMP, selama 3 tahun di SMP Muhammadiyah 50, perumnas klender, jaktim. Yang bisa di tempuh dengan satu kali naik angkutan umum, atau yang biasa di singkat angkot, yaitu angkot 03.

      Di waktu masa-masa SMP si Catur, dia satu SMP dengan teman rumahnya dan sekaligus teman ngajinya yang bernama Azmi, tapi tidak sekelas. Dikarenakan waktu tes masuk SMPnya berbeda. Mereka teman sejak kecil. Sampai ada yang mengira mereka berdua adik-kakak, padahal dari muka aja jauh beda. Di awal memasuki semester pertama ternyata Catur masuk di kelas (yang katanya) unggulan. Dan akhirnya bertemu dengan sesama mahluk bumi juga yang berjenis kelamin wanita dan pria, yang akhirnya menjadi teman Catur sampai sekarang. Ada yang wanita terlebih dahulu, seperti Cerly yang rumahnya juga tidak begitu jauh dari si Catur dan Azmi, hingga akhirnya masih suka main bareng sampe sekarang. Lalu ada Feby, yang sekarang tinggal di Solo. Ada Irene yang tinggalnya di jalan Mawar Merah, sering pindah rumah tapi tetap di lingkungan jalan Mawar Merah. Ada Dwi Citra, yang rumahnya di daerah yang bernama Rawadas, di Jakarta Timur. Ada Yunita yang paling exited dari semuanya, karena mempunyai pemikiran yang sedikit lebih dewasa atau 17 tahun ke atas, yang bertempat tinggal di Malaka Country, di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Kalo dibagian kaum adam, ada yang namanya Sofyan, dia pria yang bertubuh luas, namun sangat humoris dan sangat tidk bisa diam, yang rumahnya dekat dengan sekolah. Ada Miftah, dia pria yang bertubuh sedang, bersuara ngebass karena dia pria. Oh iya, ada satu lagi yang bernama Nadia, dia wanita yang bertubuh gemuk tapi berwajah manis, dan dia baik sekali.
Masa-masa SMP si Catur tidak begitu penting untuk diceritakan karena di situ dia sedang mengalami suatu proses yang di sebut proses 4L4Y. Jadi tidak begitu penting untuk diceritakan, karena semua orang pasti pernah mengalami 4L4Y, karena 4L4Y adalah suatu proses pendewasaan kalau menurut saya dan beberapa orang yang sepemikiran dengan saya. Hanya saja ada satu cerita di mana si Catur melewati masa ABGnya ini dengan pacaran cinta-cintaan monyet bersama lelaki yang (mudah-mudahan) beruntung pernah pacaran dengan Catur. Lelaki tersebut, sebut saja namanya Petra, karena memang namanya Petra. Satu tahun lebih tua di atas Catur. Mereka jadian pada tanggal yang bagus sekali, dan si Catur baru menyadarinya setelah dia sudah lulus SMA, karena si Petra ini mengajaknya balikan. Tanggalnya itu adalah 20-07-2007, sangat langka. Sayang hanya bertahan selama 9 bulan kira-kira. Dan ada satu kenangan lagi di masa SMP si Catur, yaitu mendapatkan kado spesial dari si Sofyan, yaitu lukisan salah satu pemusik legendaris, Iwan Fals. Dikarenakan si Catur ini lumayan menyukai lagu-lagu dari Iwan Fals. Kado itu diberikan saat kelulusan. Sampai saat ini masih tesimpan dan terpajang rapih di salah satu bagian tembok rumah orang tua si Catur.

      Berlanjut ke masa SMA si Catur. Catur masuk di SMA 103 Jakarta Timur. Kali ini dia kembali satu sekolah dengan temannya yang bernama Cerly. Hanya saja tidak sekelas, padahal semasa SMP selalu sekelas. Catur dan Cerly hanya bersebelahan saja ternyata kelasnya, Catur X-5 dan Cerly X-6. Saat kelas sepuluh itu, Catur berteman dengan beberapa teman dekat, yang sampai saat ini juga terkadang masih bertemu. Seperti dengan Ghina, yang rumahnya berada di Duta Kranji, perumahan yang setiap hujan di serang banjir, karena dilewati oleh kali. Lalu ada Elfia atau biasa di panggil Pipi, yang bertempat tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur. Kemudian ada Fauziah dan biasa di panggil Papau. Ada Nadira yang berbadan besar, berkaki besar, bertangan besar, semua besar termasuk juga berhati besar. Ada Dewa, Indri, Gita, Tami, Siti, banyak dah. Kalalu dari yang berjenis kelamin pria, ada Hafizh yang rumahnya tidak jauh dari rumah Catur, ada Vidi, Mawan, Rusydi, Aang, Denny, dan masih banyak lagi. Tibalah saatnya si Catur memasuki kelas sebelas atau 2 SMA, dan berada di kelas IPS. Dimana saat-saat kelas sebelas itu saatnya untuk main dan senang-senang. Catur kembali sekelas dengan Ghina dan Nadira. Dan kembali sekelas pula dengan Cerly. Disini kenal teman-teman baru lagi, seperti Dwi, Prissa, Nita, Firda, Yulia, Dian, Rebel, Sarah, Upi, banyak jugalah pokoknya, masa mau disebutin satu-satu? Ini saya nulisnya sambil nahan ngantuk nih masalahnya. Kalo yang cowoknya ada Bocil, Ucup, Carel, Seto, Ian, Eky, Fatih, Nanda, Jef, Andra, Viko, and the special person and our always love him is Tama, Setiawan Utama. Dan masih banyak lagi. Mereka semua berteman baik selama kelas sebelas, meskipun sedikit ada tragedi yang menyebabkan sedikit rusuh, rahasia lho ini, jangan kasih tau siapa-siapa ya? Sempat si Cerly, Nadira, Ghina, Rebel, mereka berantem karena satu cowok yang berinisial Eky. Nama-nama tersangka tadi tidak boleh disebutkan. Hanya boleh di tulis. Dan Catur menjadi penengah yang tidak tahu apa-apa namun harus menanggung beban, dengan memegang rahasia masing-masing tersangka. Mereka semua curhat pada Catur. Catur hanya bisa pasrah dan sempat di bilang 'backstabber'. Hanya bisa pasrah dan diam. Sampai akhirnya masalah tersebut clear secara keseluruhan. Alhamdulillah. Dan sekali lagi saya kasih tau, saya ngantuk lho.

      Naik ke kelas dua belas, atau kelas 3 SMA. Catur sudah tidak sekelas dengan Ghina ataupun Nadira ataupun Cerly. Tapi dia kembali sekelas dengan teman di waktu kelas sepuluh, yaitu Dewa dan Denny. dari kelas sebelas dia kembali sekelas dengan Nita,Viko, Bocil, Ian dan beberapa yang lainnya. Melewati masa kelas dua belas yang seharusnya serius belajar untuk menghadapi UN, namun tidak untuk Catur. Karena dia justru baru memulai aksinya yang bandel. Dari memakai kaus kaki hitam ke sekolah, selama kelas dua belas, yang seharusnya itu tidak boleh dilakukan. Sampai teman-teman yang cowok bertanya bagaimana dia bisa lolos tanpa ketahuan guru piket kalau memakai kaus kaki hitam. Saya diberi tahu Catur, katanya dia hanya mengikuti barisan saja, saat berbaris untuk salim kepada guru piket  di depan gerbang, dia mengikuti orang yang berada lebih dulu didepannya, sehingga guru tidak begitu memperhatikan kaus kaki si Catur. Padahal dia memakai rok yang sedikit mengatung lho. Lalu kebandelan yang berikutnya, yaitu ikut-ikutan nongkrong sama anak-anak Mamank, salah satu tongkrongan anak-anak 103, yang sampe sekarang pun terkadang masih dia laksanakan. Hingga pernah di panggil BK karena ketauan nongkrong. Cabut pelajaran dari awal pelajaran sampe pulang. Masuk ke kelas lain saat ada guru yang tidak disenanginya mengajar atau malas belajar. Telat sekolah bukan pulang malah main kelayapan. Sampe pernah waktu sungkeman lebaran bulan ramadhan tahun berapa ya waktu itu? Lupa, itu dia sungkem sama ibunya, eh ibunya malah ngetawain, Catur heran dan bertanya sama ibu, "kok ibu ketawa sih?" ibu menjawab, "kamu itu lucu, minta maaf sampe nangis-nangis tapi nanti ngulangin lagi bandelnya hahahaha" si Catur dan anggota keluarga yang lain malah jadi pada ketawa. Yak, itulah si Catur yang dari kecilnya sudah manis, lalu semakin manis karena bisa melakukan perbuatan bandel, padahal cewek, pakai kerudung pula, astaghfirullahaladzim. Tapi sekarang insya Allah sedang dalam masa pertobatan, di masa kuliahnya. Dia kuliah di Universitas swasta, yaitu Gunadarma, mengambil jurusan Psikologi, yang sebenarnya bertujuan sekalian berobat jalan.

Sekian tentang si Catur, yaitu satu-satunya cewek berkaus kaki hitam semasa SMAnya di kelas dua belas. Dan saya semakin ngantuk, dan akhirnya saya bisa pergi tidur.

Si Ganteng #part3

      (Flashback sebelum keterima di kampus swasta)
Beberapa bulan gue gak tau kabar dari si ganteng. Nah suatu saat pas gue lagi nemenin temen gue buat daftar di kampus yang sama kayak gue, gue ngeliat seseorang yang udah gak asing lagi di mata gue yang juga lagi nunggu di panggil namanya sama panitia penerimaan mahasiswa baru di calon kampus swasta gue. Dan ternyata oh ternyata, itulah si ganteng yang udah berapa bulan ini gak keliatan. Gue gak berani negor ah, malu soalnya. Dan gak lama dari situ gue di panggil sama temen gue, gue masuk ke ruangan yang disediain, pas keluar si ganteng udah lenyap, gak tau kemana. dan setelah itu gue pun gak ketemu ketemu lagi sama si ganteng.
      
      Tiba saatnya pengumuman dari calon kampus negeri, gue yang daftar di dua universitas berbeda dan dua universitas itu sama-sama favorit, sebenernya udah gak yakin bakal lolos, dan ternyata emang gak lolos. gimana nggak? orang pas tes SNMPTN (tes buat masuk PTN) gue ngisi soalnya itu semau-mau gue aja. Dan sudah jelas akhirnya gue memang ditakdirkan untuk masuk di kampus swasta yang mana dulu dua kakak gue juga belajar di sana. Dengar kabar burung, ternyata si ganteng juga masuk di kampus swasta yang sama kayak gue. Betapa bahagianya diriku bisa sering sering melihat manusia ganteng itu.
Saat mendekati hari pertama kuliah, kampus gue itu mengadakan yang namanya kuliah umum atau kuliah perdana bagi para mahasiswa baru. Dan berlokasi di Depok, di kampus utamanya lah gitu istilahnya. Temen gue yang waktu itu daftar bareng gue gak ikut dikarenakan dia lebih memilih ikut makrab yang diadakan oleh BEM nya, seperti OSIS gitu kalo di sekolah. Pergilah gue sendirian ke Depok menggunakan kereta api listrik yang bertarif ekonomi AC. Untungnya ketika ospek gue sempet kenalan sama beberapa temen, dan dia ikut kuliah perdana juga. Janjian lah gue sama dia di stasiun Pondok Cina yang berada di Depok itu. 
Ketika bertemu dengannya, temen gue ini namanya Ninit, gue kira dia sendirian atau bawa beberapa temennya, eh ternyata dia bawa rombongan yang kira kira lebih lah dari sepuluh orang. Sedangkan gue sendirian. Akhirnya kita bareng-bareng menuju kampus yang letakya gak jauh juga dari stasiun. Karena waktu udah menunjukkan waktu dzuhur, gue sama yang lain solat dulu di masjid kampus. 
      
      Jam menunjukkan pukul berapa ya waktu itu? Gue lupa, karna gue gak inget, jadi yaudahlah ya. Gue sama yang lain langsung memasuki ruangan yang luas dan lebar. Di sana gue merhatiin dosen yang lagi jelasin tentang Psikologi, karna gue masuk jurusan Psikologi. Saat sudah mau selesai, gue nanya nomer HP temennya Ninit yang duduk sebelah gue dan juga sebelahnya lagi, yang mempunyai nama Werdi dan Aini. Ternyata gue sekelas sama Aini, untung nemu temen buat nanti hari pertama masuk kuliah.
Hari pertama masuk kuliah nih, gue sama Aini udah smsan aja tuh dari malem buat janjian sama buat tunggu-tungguan pas mau masuk kelas nanti. Setibanya gue di kampus, Aini udah nunggu deket kelas, dan kami pun masuk berbarengan, duduk juga sebelahan. Gue pun sama Aini mengenal beberapa teman yang lain. Dan mulai beradaptasi.
      
      Setelah beberapa minggu masuk kuliah, entah kenapa gue bingung banget belom juga ketemu sama si ganteng di kampus, bahkan ngeliat pun juga nggak. Apa dia di telen ya sama bumi? Sampe akhirnya udah sekian lama gue akhirnya ngeliat juga itu si ganteng. Gue nyoba negor dah tuh, "Ganteeeeng!!!" (karna dari awal gue gak nyebutin namanya, jadi gue tetep sebut dia ganteng, jangan protes, dan janga kepo). Dan dia pun nengok untuk mencari sumber suara. Saat dia menemukan gue, apakah reaksi si ganteng? Dia cuma nengok dan sedikit menggerakkan kepalanya. ?????????????????, cukup banyak tanda tanya yang ada di kepala gue, kenapa si ganteng cuma ngerespon gitu doang ya? Karena gue negor dengan penuh semangat sambil melambaikan tangan pula. Aini dan satu lagi temen gue namanya Tiwi, yang sebelumnya udah gue ceritain tentang si ganteng ketawa terbahak-bahak dan juga sedikit kesel. Karena kenapa orang yang gue ceritain ganteng, cool, keren, eh sikapnya kok gitu amat pas di tegor. Tapi karena baru pertama kali ketemu lagi gue maklumin, mungkin karena waktu itu kondisinya gue lagi sama temen-temen gue, jadi dia sedikit malu buat ngasih respon yang normal (padahal kenapa kudu malu coba?). 
      
      Beberapa lama kemudia gue ketemu lagi sama si ganteng, dan itu berlokasi pas banget di depan kelasnya dia. Gue waktu itu lagi mau praktikum. Gue yang berencana mau negor dia lagi sempet dilarang sama Aini dan Tiwi, karena takut responnya kayak waktu itu lagi. Tapi karena gue pengen mastiin gue tegor lagi, "bang ganteng, sombong amat" dia sempet bales omongan gue tapi dengan suara yang sedikit pelan, dan alhasil gue gak denger dia ngomong apaan. Fix lah kedua temen gue itu semakin gondok sama si ganteng. Sampe ketiga kalinya gue negor dia juga, respon yang sama kembali dia kasih ke gue. Oke, Fine, Bye! Gue kesel, dan gak mau negor negor dia lagi.
      
      Cukup mengherankan aja kenapa yang dulu pas SMA dia kayaknya gak begitu, tapi sekarag kuliah kenapa jadi begitu? Apa karena takut gue suka lagi sama dia? Hellooooo gue udah gak ada rasa apa-apaan sama elu bang ganteeeeeng. Mudah-mudahan aja dia berdenging deh kupingnya tiap gue ngomongin dia. Biar apa?  Biar seru aja gitu berdenging kupingnya. Dan sekian lah cerita tentang si ganteng. Capek juga gue nyeritain si ganteng, yang ujung-ujungnya dia malah terkesan sombong begitu. Gak tau deh gimana seandainya suatu saat gue reunian dan ada dia, bakal ngobrol apa nggak ya? Tunggu di cerita berikutnya ya kalo gue udah bener reunian sama temen-temen SMA gue.