Kamis, 13 Juni 2013

Menuju Mahasiswa

        Alhamdulillah saya masuk SMA negeri yang terletak di Jakarta Timur, yaitu SMA Negeri 103. Berkat usaha dan kerja keras saya mengerjakan soal UN ketika SMP, berusaha keras agar contekan saya tidak ketahuan oleh pengawas, padahal saya duduk itu di pojok kanan depan, namun karena saya mempunyai keberanian yang cukup tinggi, saya berhasil menyontek tanpa ketahuan. Tapi itu juga saya bukan menyontek yang benar-benar melihat pada contekan, hanya kalau kepepet saja saya meihat contekan. Sekali lagi, hanya kalau kepepet lho. Dan kebetulan hampir semua kepepet saat itu, maksud saya para siswanya hampir semua kepepet, jadi hampir semua nyontek. Tapi ya alhamdulillah lah saya lulus dan SMP saya lulus seratus persen. Saya memasuki masa-masa orientasi siswa di cepetiga (sebutan untuk SMA dimana saya bersekolah di sana), selama 3 hari berturut-turut. Dari pagi hingga sore saya menempuh masa orientasi atau yang biasa di sebut MOS. Setelah melalui MOS mulailah saya memasuki hari pertama bersekolah di cepetiga. Saya sekelas dengan tetangga saya, dia bernama Hafizh, Muhammad Hafizh Naufal, di panggilnya Apis. Orangnya tinggi, kurus, mirip ibunya, karena dia memang anak ibunya yang bernama Ibu Dewi, alhamdulillah pis. Saya sempat di panggil tante oleh teman-teman saya karena saya sudah mempunyai keponakan saat itu. Dan si Apis dijadikan om-nya, padahal saya gak minta, tapi teman-teman saya terlalu kreatif sehingga mereka berinisiatif sendiri.
       Saat diadakan psikotes untuk menentukan jurusan apa yang cocok untuk saya di kelas sebelas nanti, saya berharap bisa diberikan hasil kalau saya cocok di IPA. Hasil keluar. Saya IPA? Gak mungkiiiiiiin, saya ingin IPA tapi saya sadar kalau saya tidak bisa pelajaran IPA, dan hasil psikotes menjawab dengan jujur dan dengan penuh pengertian, saya IPS. Hari pertama saya menjalani hidup saya di kelas sebelas itu dengan mengikuti upacara di hari Senin. Kenapa upacara itu hari Senin? Kenapa gak Jumat atau Rabu? Oke, gak usah terlalu dipikirin, nanti depresi sendiri. Saya sempat bingung ingin berbaris dibarisan kelas yang mana, karena saya rada telat sampai sekolahnya. Tapi saya bertemu dengan teman sekelas saya yang juga sedikit telat saat itu, namanya Aulia, saya memanggilnya Aul, karena gak mungkin saya manggil dia Jon. Dan berhasil menemukan barisan kelas saya. Muka-muka baru yang belum saya kenal sepenuhnya. Upacara selesai, belajar di mulai. Saya duduk dengan Ghina, teman saya waktu kelas sepuluh juga. Hari demi hari terus berlanjut. Saya mulai mengenal satu sama lain dengan baik. Dan kelas saya punya nama lho, namanya Acrevone. Acrevone itu singkatan, singkatan dari Awesome Crew of Eleven Social One, the best class I ever had. Oh iya, wali kelas saya itu guru Akuntansi-Ekonomi, beliau bernama Ibu Retno, “hidup bu Retno!!” itu selogan yang selalu saya ucapkan ketika bertemu beliau. And she’s the best wali kelas I ever had too. Saya lupa bahasa Inggris wali kelas apa. Bukan lupa sih, lebih tepatnya gak tau. Di Acrevone kita punya temen spesial, bukan kita doang sih, tapi ya cepetiga yang punya. Tapi khususnya di angkatan saya, dan di kelas saya. Dia seorang lelaki dengan tubuh yang gemuk, dan tinggi biasa aja, dia bernama Setiawan Utama, di panggil Tama atau Tamjak. Selalu saya dan yang lain mengucapkan untuk Tama, dan semoga suatu saat Tama baca ini “kita kangen elu tam, kapan main lagi? Udah sehat kan? Kangen banget banget banget tam sama lo”. Kenapa spesial? Dia temen kita yang baik, humoris, dan gak nyangkanya dia diberitakan terkena kanker darah atau Leukimia. Bukan diberitakan lagi sebetulnya, tapi memang benar seperti itu. Alhamdulillahnya sakitnya Tama ini cepat diketahui dan cepat ditangani, jadi belum sampai menyerang Tama lebih jauh lagi. “Semangat Tamjak!!” J
       Berlanjut lagi saya memasuki kelas dua belas. Di kelas ini saya merasakan cukup nyaman, hanya cukup. Karena terlihat sekali anak-anaknya berkumpul sendiri-sendiri, tidak berbaur jadi satu. Tapi tetap bersyukur saja, karena jadi sekelas sama yang seblumnya belum sekelas. Beberapa ada yang dari kelas sebelas sekelas lagi dengan saya, seperti Nita, Viko, Bocil, Ian, Gunawan, Gerald, banyak sih lumayan. Karena ini bukan absen, jadi saya gak mungkin mau nyebutin satu-satu nama mereka. Ada juga yang dari kelas sepuluh terus sekelas lagi, ada Dewanti, Dhanny, Bismo, Denbra, dll. Dan yang saya suka itu saya sekelas sama Imam dan Rio Batak, mereka hampir setiap hari bikin saya ketawa. Ibaratnya gak ada mereka kelas bakal kayak di sawah waktu tengah malem. Terkadang mereka ngelawak dengan berpura-pura Imam itu suami saya, lalu kalau saya dekat-dekat dengan temen saya yang cowok yang lain, dia akan langsung menendang meja atau kursi, seakan-akan cemburu. Begitu pula saya, saya juga suka begitu ketika dia mendekati teman saya yang bernama Meytri. Atau mereka ngelawak di depan kelas, itu sangat berguna bagi kelas saya yang sedikit garing. Tidak terasa sudah mau menuju UN. Saya tidak pernah serius belajar, apa lagi di pelajaran Matematika. Padahal guru Matematikanya itu adalah wali kelas saya. Tapi kalau ada penghargaan buat guru tersabar di cepetiga, saya akan kasih ke wali kelas saya ini, yang bernama Ibu Nursyamsi. Karena ketika dia mengajar, terus tidak ada yang memperhatikan dia, dia tetap mengajar di depan dan mengajarkan yang memperhatikan saja. Dan saya tentu termasuk yang tidak memperhatikan. Tapi dia sangat mengenal saya, karena saya bendahara kelas, jadi wajar dia kenal saya. Ada satu guru yang sangat suka meledek suara saya. Dia itu Ibu Sudinar, guru bahasa Inggris. Kata dia, “saya itu suka suara Catur, cempreng-cempreng gimana gitu kalau sudah tereak-tereak” (maksudnya teriak-teriak). Saya hanya bisa ikhlas. Lalu UN tiba. Saya lulus. Dan tinggal menuju ujian SNMPTN. Saya melewati liburan di bulan-bulan pertama saya dengan les untuk SNMPTN, di tempat les dekat sekolah saya, dengan gurunya yang bernama Pak Bamz dan Pak fasni yang kece-kece. Terutama Pak Fasni yang suka ngejejelin bulu keteknya ke saya, astaghfirullah Fasniiii, Fasniiii.

SNMPTN pun saya lalui dengan santai. Saya santai karena saya tidak mengerti dengan soal SNMPTN tersebut. Biarpun saya sudah berulang kali latihan SNMPTN di tempat les. Dan beberapa lama kemudian saya menerima hasil dari ujian SNMPTN tersebut, dan saya TIDAK LULUS. Terima kasih ya Allah, terima kasih tuhan, terima kasih bapak ibu saya, terima kasih semua guru cepetiga, terima kasih guru-guru di tempat les. Sebelum menerima hasil SNMPTN saya sudah memegang kampus cadangan di Universitas Gunadarma dengan menggunakan beasiswa. Jadi memang saya sudah digariskan untuk bertemu teman-teman kuliah saya mungkin. Teman-teman kuliah saya yang kece-kece badai, pesan saya tolong tuntun saya ke arah yang benar, karena selama ini saya belum benar otaknya. Mungkin itu memang pesan yang seharusnya saya sampaikan ke mereka. Namun itu mustahil. Karena teman-teman kuliah saya pun sejenis dengan saya. Makhluk omnivora yang menginginkan kebahagiaan selalu di sela-sela hari yang dilewati, itulah saya. Dan teman-teman saya sepertinya juga begitu. Semua teman saya ya. Karena semua teman saya hampir sejenis semua. Tidak apa-apa, yang penting uuuuuulala uhuy~

Tidak ada komentar: