Kalau mikirin tentang saya ini siapa, sekali lagi saya ingatkan, saya ini cuma seonggok manusia yang berjenis kelamin perempuan, alhamdulillah memakai kerudung, karena rambut itu merupakan salah satu aurat yang harus di tutup oleh perempuan, dan saya punya 3 buah kakak. Kakak pertama saya bernama Anggoro Suryo Rini, berjenis kelamin wanita lhoooo, biar namanya sedikit jantan tapi dia ini betina tulen. Terlahir pada malam hari, di saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-37 tahun. Berwarna kulit putih, dan kecil, karena kalau terlahir dengan ukuran yang sudah seperti saya sekarang, mungkin ibu saya akan langsung memasuki kakak saya ke museum, karena melahirkan anak langka dengan ukuran tubuh yang tidak biasa. Tapi karena itu semua tidak mungkin, jadi tidak penting saya ceritakan di sini. Dan kakak pertama saya itu sudah menikah dengan suaminya, seorang pria. Tentu saja seorang pria. Dan berprofesi sebagai bapak keamanan alias Polisi (lumayan buat bahan nakutin Polisi di jalan yang suka nilang saya). Alhamdulillah juga sudah mempunyai dua anak yang berjenis kelamin sama seperti saya dua-duanya. Tapi tidak bermuka sama dengan saya, karena kalau sama dengan saya mungkin kakak saya akan langsung menjadikan bayinya model. Ya! Model! Model sampul majalah tumbuh-tumbuhan.
Ketika mikirin lagi tentang siapa saya? Saya perempuan yang mempunyai dua mata, satu hidung, dua telinga, dua tangan, dua kaki, satu kepala, dan tentu saya punya nyawa, alhamdulillah. Dan saya juga punya kakak kedua yang ingin saya ceritakan tentangnya. Dia seorang wanita lagi, dengan kulit yang sawo matang, agak kematangan dikit, alhamdulillah menggunakan kerudung juga. Oh iya, kakak pertama saya yang tadi juga memakai kerudung alhamdulillah. Kakak saya yang kedua ini mempunyai masa kecil yang lain dari yang lain. Karena dia seorang wanita super waktu masih kecilnya. Saya mendapatkan cerita dari ibu saya, kalau kakak sya yang kedua ini pernah membelah sepeda menjadi dua. Saya terkesan mendengarnya. Saya sempat berpikir, apakah kakak saya ini titisan superwoman? Tapi tentu saja tidak! Karena dia tidak punya kostum superwoman. Kakak kedua saya ini bernama Dwi Ratri Utami, nama yang menggambarkan dia seorang wanita namun kelakuan sedikit melengos waktu kecilnya. Terbalik dengan kakak pertama saya. Kakak kedua saya terlahir di bidan (insya Allah) di bulan April, dua hari setelah kelahiran Ibu Kita Kartini. Dia juga telah menikah, alhamdulillah sekali dengan seorang pria juga. Sudah mempunyai dua orang anak juga, yang mana anak pertamanya berkelakuan tidak jauh beda dengan ibunya di masa ibunya kecil dulu. Kalau anak keduanya sedikit cengeng, mungkin meniru bapaknya, saya tidak tahu karena saya tidak pernah bertanya juga bagaimana masa kecil kakak ipar saya. Dan mungkin saya tidak akan menanyakannya pula. Itu tidak penting kawan.
Saya berpikir kembali dari tadi ternyata saya menceritakan tentang kakak-kakak saya, bukan tentang saya. Jadi, karena saya masih mempunyai satu kakak lagi yang belum saya ceritakan, takut sewaktu-waktu dia baca tulisan saya ini dia marah kalau tidak saya ceritakan, jadi ya saya ceritakan saja ya? Kakak saya yang ketiga ini tidak sama dengan kakak pertama saya, dengan kakak kedua saya, tidak sama juga dengan saya dan ibu saya. Dia samanya seperti bapak saya, karena dia laki-laki. Berwarna kulit yang katanya sebenarnya putih, namun saat baru keluar melihat dunia kesemprot sama tinta cumi. Mungkin kakak ketiga saya lahirnya berbarengan dengan anak cumi-cumi yang baru dilahirkan juga. Cuma yang saya bingung kakak saya itu lahirnya dimana? Kenapa bisa kesemprot tinta cumi? Karena ini cerita bohong, tidak usah saya ceritakan. Dia beernama Putut Lintang Trenggono. Lahir di malam hari, oh mungkin karena dia lahir di malam hari sehngga berkulit gelap. Mungkin. Menurut saya, dia tidak mempunyai masa kecil yang heboh seperti kakak kedua saya. Hanya saja yang saya ingat tentang kakak ketiga saya, berdasarkan cerita dari ibu saya, semasa kecilnya dia banyak salah mengucapkan kosakata. Seperti "komputer" menjadi "keong puter" atau "satpam" menjadi "satam" dan masih banyak lagi. Mungkin kakak saya sudah berbakat untuk menjadi orang yang jago main plesetan kata seperti yang sering dilakukan pelawak. Kakak saya yang ketiga ini juga sudah menikah di bulan ketiga tahun 2013 ini. Bukan dengan seorang pria yang kali ini, karena kakak ketiga saya seorang pria maka menikahnya dengan seorang wanita, meskipun kakak saya iri dengan kakak saya yang lain yang enikah dengan seorang pria. Belum mempunyai keturunan karena dua-duanya terpisah antar dua pulau. Kakak saya di Pulau Jawa, istrinya berada di Pulau Sumatera. Mereka bertemu hanya seminggu sekali terkadang, jadi tidak ada waktu banya untuk memproduksi anak. Mungkin nanti sewaktu istrinya sudah boleh dipindahkan di Jakarta, baru bisa. Bisa apa? Bisa sering bertemu maksud saya. Dan saya selalu menantikan ponakan baru dari kakak ketiga saya.
Sebenarnya ada satu kakak lagi yang seharusnya bisa saya ceritakan. Mungkin bisa saya ceritakan, tapi tidak banyak cerita tentang dia. Dia kakak saya yang terlahir sebelum saya. Tepat di atas saya setahun. Dia terlahir normal, dengan warna kulit putih bersih, dan ganteng kalau kata ibu saya. Karena dia juga berjenis kelamin laki-laki. Terlahir di bulan awal tahun, tanggalnya saya kurang tau. Dia akan menjadi lelaki tampan saat besar nanti, itu kata ibu saya. Namun Allah berkehendak lain. Dia hanya diberikan waktu sebentar untuk merasakan dunia. Entah berapa lama, tapi hanya hitungan hari. Dan dia kembali kerumahnya, rumah sebelum dia terlahir di dunia. Andai kakak ku ysng itu masih ada sampe sekarang, mungkin saya akan membanggakannya pada teman-teman saya karena dia ganteng. Kapan lagi punya kakak ganteng? Kakak ketiga saya? Gantengnya kalau lagi baik saja dia mah. Setaun setelah itu, di bulan kedua barulah saya muncul untuk meramaikan dunia. Meskipun saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya saya ini anak ibu-bapak saya atau bukan. Karena dulu waktu saya kecil banyak yang berkomentar kalau saya ini tidak mirip dengan ibu-bapak saya. Kakak-kakak saya meledek saya kalau saya ini anaknya Nur tukang sayur. Sampai-sampai di tas sekolah TK saya dulu dituliskan nama "Enur". Padahal nama panggilan kecil saya itu "Enuk" bukan "Enur". Dan si Enur itu numpang eksis saja dituliskan namanya di tas saya. Mungkin kalau orang tuanya Enur tau, akan bangga karena namanya bisa ada di tas saya. Mungkin. Karena saya juga bertanya-tanya kenapa harus bangga? Kenal saja tidak.
Ketika mikirin lagi tentang siapa saya? Saya perempuan yang mempunyai dua mata, satu hidung, dua telinga, dua tangan, dua kaki, satu kepala, dan tentu saya punya nyawa, alhamdulillah. Dan saya juga punya kakak kedua yang ingin saya ceritakan tentangnya. Dia seorang wanita lagi, dengan kulit yang sawo matang, agak kematangan dikit, alhamdulillah menggunakan kerudung juga. Oh iya, kakak pertama saya yang tadi juga memakai kerudung alhamdulillah. Kakak saya yang kedua ini mempunyai masa kecil yang lain dari yang lain. Karena dia seorang wanita super waktu masih kecilnya. Saya mendapatkan cerita dari ibu saya, kalau kakak sya yang kedua ini pernah membelah sepeda menjadi dua. Saya terkesan mendengarnya. Saya sempat berpikir, apakah kakak saya ini titisan superwoman? Tapi tentu saja tidak! Karena dia tidak punya kostum superwoman. Kakak kedua saya ini bernama Dwi Ratri Utami, nama yang menggambarkan dia seorang wanita namun kelakuan sedikit melengos waktu kecilnya. Terbalik dengan kakak pertama saya. Kakak kedua saya terlahir di bidan (insya Allah) di bulan April, dua hari setelah kelahiran Ibu Kita Kartini. Dia juga telah menikah, alhamdulillah sekali dengan seorang pria juga. Sudah mempunyai dua orang anak juga, yang mana anak pertamanya berkelakuan tidak jauh beda dengan ibunya di masa ibunya kecil dulu. Kalau anak keduanya sedikit cengeng, mungkin meniru bapaknya, saya tidak tahu karena saya tidak pernah bertanya juga bagaimana masa kecil kakak ipar saya. Dan mungkin saya tidak akan menanyakannya pula. Itu tidak penting kawan.
Saya berpikir kembali dari tadi ternyata saya menceritakan tentang kakak-kakak saya, bukan tentang saya. Jadi, karena saya masih mempunyai satu kakak lagi yang belum saya ceritakan, takut sewaktu-waktu dia baca tulisan saya ini dia marah kalau tidak saya ceritakan, jadi ya saya ceritakan saja ya? Kakak saya yang ketiga ini tidak sama dengan kakak pertama saya, dengan kakak kedua saya, tidak sama juga dengan saya dan ibu saya. Dia samanya seperti bapak saya, karena dia laki-laki. Berwarna kulit yang katanya sebenarnya putih, namun saat baru keluar melihat dunia kesemprot sama tinta cumi. Mungkin kakak ketiga saya lahirnya berbarengan dengan anak cumi-cumi yang baru dilahirkan juga. Cuma yang saya bingung kakak saya itu lahirnya dimana? Kenapa bisa kesemprot tinta cumi? Karena ini cerita bohong, tidak usah saya ceritakan. Dia beernama Putut Lintang Trenggono. Lahir di malam hari, oh mungkin karena dia lahir di malam hari sehngga berkulit gelap. Mungkin. Menurut saya, dia tidak mempunyai masa kecil yang heboh seperti kakak kedua saya. Hanya saja yang saya ingat tentang kakak ketiga saya, berdasarkan cerita dari ibu saya, semasa kecilnya dia banyak salah mengucapkan kosakata. Seperti "komputer" menjadi "keong puter" atau "satpam" menjadi "satam" dan masih banyak lagi. Mungkin kakak saya sudah berbakat untuk menjadi orang yang jago main plesetan kata seperti yang sering dilakukan pelawak. Kakak saya yang ketiga ini juga sudah menikah di bulan ketiga tahun 2013 ini. Bukan dengan seorang pria yang kali ini, karena kakak ketiga saya seorang pria maka menikahnya dengan seorang wanita, meskipun kakak saya iri dengan kakak saya yang lain yang enikah dengan seorang pria. Belum mempunyai keturunan karena dua-duanya terpisah antar dua pulau. Kakak saya di Pulau Jawa, istrinya berada di Pulau Sumatera. Mereka bertemu hanya seminggu sekali terkadang, jadi tidak ada waktu banya untuk memproduksi anak. Mungkin nanti sewaktu istrinya sudah boleh dipindahkan di Jakarta, baru bisa. Bisa apa? Bisa sering bertemu maksud saya. Dan saya selalu menantikan ponakan baru dari kakak ketiga saya.
Sebenarnya ada satu kakak lagi yang seharusnya bisa saya ceritakan. Mungkin bisa saya ceritakan, tapi tidak banyak cerita tentang dia. Dia kakak saya yang terlahir sebelum saya. Tepat di atas saya setahun. Dia terlahir normal, dengan warna kulit putih bersih, dan ganteng kalau kata ibu saya. Karena dia juga berjenis kelamin laki-laki. Terlahir di bulan awal tahun, tanggalnya saya kurang tau. Dia akan menjadi lelaki tampan saat besar nanti, itu kata ibu saya. Namun Allah berkehendak lain. Dia hanya diberikan waktu sebentar untuk merasakan dunia. Entah berapa lama, tapi hanya hitungan hari. Dan dia kembali kerumahnya, rumah sebelum dia terlahir di dunia. Andai kakak ku ysng itu masih ada sampe sekarang, mungkin saya akan membanggakannya pada teman-teman saya karena dia ganteng. Kapan lagi punya kakak ganteng? Kakak ketiga saya? Gantengnya kalau lagi baik saja dia mah. Setaun setelah itu, di bulan kedua barulah saya muncul untuk meramaikan dunia. Meskipun saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya saya ini anak ibu-bapak saya atau bukan. Karena dulu waktu saya kecil banyak yang berkomentar kalau saya ini tidak mirip dengan ibu-bapak saya. Kakak-kakak saya meledek saya kalau saya ini anaknya Nur tukang sayur. Sampai-sampai di tas sekolah TK saya dulu dituliskan nama "Enur". Padahal nama panggilan kecil saya itu "Enuk" bukan "Enur". Dan si Enur itu numpang eksis saja dituliskan namanya di tas saya. Mungkin kalau orang tuanya Enur tau, akan bangga karena namanya bisa ada di tas saya. Mungkin. Karena saya juga bertanya-tanya kenapa harus bangga? Kenal saja tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar