1. 1. Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
A.
Penyesuaian Diri
Menurut Schneiders (dalam Patosuwido, 1993)
penyesuaian diri merupakan
kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan
untuk
mengembangkan mekanisme psikologi yang tepat. Sawrey dan Telford (dalam
Colhoun & Acocella, 1990) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai interaksi
terus-menerus antara individu dengan lingkungannya yang melibatkan sistem
behavioral, kognisi, dan emosional. Dalam interaksi tersebut baik individu
maupun lingkungan menjadi agen perubahan. Penyesuaian dapat didefenisikan
sebagai interaksi yang kontiniu dengan diri sendiri, dengan orang lain dan
dengan dunia. Ketiga faktor ini secara konsisten mempengaruhi seseorang. Hubungan
ini bersifat timbal balik (Calhoun & Acocella, 1990).
Schneiders (1964) memberikan kriteria individu dengan
penyesuaian diri yang baik, yaitu
sebagai berikut :
a. Pengetahuan tentang kekurangan dan kelebihan dirinya.
b. Objektivitas diri dan penerimaan diri
c. Kontrol dan perkembangan diri
d. Integrasi pribadi yang baik
e. Adanya tujuan dan arah yang jelas dari perbuatannya
f. Adanya perspektif, skala nilai, filsafat hidup yang adekuat
g. Mempunyai rasa humor
h. Mempunyai rasa tanggung jawab
i. Menunjukkan kematangan respon
j. Adanya perkembangan kebiasaan yang baik
k. Adanya adaptabilitas
l. Bebas dari respon-respon yang simtomatis atau cacat
m. Memiliki kemampuan bekerjasama dan menaruh minat terhadap orang lain
n. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain
o. Adanya kepuasan dalam bekerja dan bermain
p. Memiliki orientasi yang adekuat terhadap realitas
Individu dengan penyesuaian diri yang baik maka dia memiliki ciri-ciri
penyesuaian
diri yang baik tersebut secara terus menerus di dalam hidupnya.
B.
Pertumbuhan Personal
Manusia merupakan makhluk individu. Manusia disebut
sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya
sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi
individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang
khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik
terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu
tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit
demi sedikit dan melalui proses yang panjang. Setiap individu pasti akan
mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan
proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi
pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan
sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga
adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga.
Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma
tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan
hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun
terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi
pertumbuhan individu.
Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan dan
pertumbuhan individu :
·
Faktor genetik :
1. Faktor keturunan — masa konsepsi.
2. Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan.
3. Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut,
warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis
seperti temperamen.
4. Potensi genetik yang bermutu
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga
diperoleh hasil akhir yang optimal.
·
Faktor eksternal / lingkungan :
1. Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir
hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
2.
Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan,
sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor di atas
dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan
memberikan pertumbuhan bagi suatu individu.
a.
Penekanan Pertumbuhan, Penyesuaian diri, dan
pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang
sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses
transmisi dari konstitusi fisik (keadaan
tubuh atau keadaan jasmaniah)
yang herediter dalam bentuk proses aktif secaraberkesinambungan. Jadi,
pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan
ukuran dan struktur biologis. Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh
Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis,
perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai
keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara
bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri
anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi
semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
b.
Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri,
karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak
berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat
dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.
c.
Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan
temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara
intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon
mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh
dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf
yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan
diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah
merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem
saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian
diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf,
kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah
laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik
merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping
itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri,
kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam
kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit
jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian
dirinya.
d.
Fenomenologi Pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang
dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia
dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman
orang lain.” (Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan
Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai-Bapak Psikologi Humanistik).
2. 2. Stress
A.
Arti Penting Stress
Stress adalah reaksi non-spesifik manusia terhadap
rangsangan atau tekanan (stimulus stressor). Stress merupakan suatu
reaksi adapatif, bersifat sangat individual, sehingga suatu stress bagi
seseorang belum tentu sama tanggapanya bagi orang lain. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh tingkat kematangan berpikir, tingkat pendidikan, dan kemampuan
adaptasi seseorang terhadap lingkungannnya.
Stress dapat terjadi pada
setiap orang dan pada setiap waktu. Stress merupakan bagian dari kehidupan
manusia yang tidak dapat dihindari. Umumnya orang menyadari adanya stress,
tetapi ada juga yang tidak. Raksi seseorang dapat bersifat positif atau
negative. Reaksi yang bersifat positif jika menimbulkan dampak positif dan
menjadi pendorong agar orang berusaha lebih baik. Reaksi tersebut berifat negative,
bila terjadi gangguan pada orang itu. Stress dapat berguna. Kita menjadi
berpikir dan berusaha lebih baik lagi. Stress dapat mendorong kita untuk
meningkatkan diri kita. Yang penting adalah bagaimana kita hidup dengan
stress tanpa bereaksi negative.
B.
Tipe-tipe Stress Psikologis
Tiga tipe stres menurut Schafer (2000), adalah:
(1) Neustres (stres yang netral).
Stres menjadi sesuatu yang netral ketika seseorang merespon tuntutan dari dalam
maupun luar dirinya dengan netral. Pikiran dan tubuh dipacu, tetapi dampak yang
dirasakan dari tuntutan yang ada hanya sedikit dan seseorang itu mampu menjalani
kehidupannya seperti biasa.
(2) Distres (stres yang bersifat
negatif). Seseorang menganggap pengalaman atau peristiwa yang dialaminya itu
membahayakan tergantung pada derajat apakah seseorang menerimastresor itu
sebagai sesuatu yang melebihi kemampuannya untuk ditangani, dan apakah itu
mengancam kesejahteraannya (Lazarus & Folkman, 1984). Simptom-simptom
distres antara lain: konsentrasi yang rendah, mudah marah, tangan sering
berkeringat, pundak terasa kaku, cemas, depresi, dan berbicara dengan cepat. Di
dalam keluarga, adanya kondisi distres pada salah satu
anggota, terutama orangtua, dapat menimbulkan masalah, seperti: ketegangan di
dalam keluarga, teredamnya kebebasan berekspresi, konflik terbuka, menjatuhkan
secara psikologis, rendahnya harga diri anggota keluarga yang lain, tidak
memberikan perhatian penuh pada kebutuhan fisik dan emosi anggota keluarga yang
lain, dan menyebabkan kehancuran dalam keluarga.
(3) Positive Stres. Stres yang memberikan
manfaat ketika muncul, antara lain: (a) membantu merespon dengan cepat dan
segenap tenaga dalam keadaan darurat; (b) membantu menyadari potensi diri yang
sesungguhnya; (c) berguna untuk tampil dengan baik ketika berada di bawah
tekanan (seperti wawancara kerja); dan (d) membantu mendorong seseorang ke titik
batas.
C.
Sympthom-reducing Responses terhadap Stress
-
Pengertian Symptom – reducing responses terhadap
Stress
Kehidupan akan terus berjalan seiring dengan brjalannya waktu. Individu
yang mengalami stress tidak akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia
rasakan. Untuk itu setiap individu memiliki mekanisme pertahanan diri
masing-masing dengan keunikannya masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala
stress yang ada.
- Mekanisme Pertahanan Diri
o
Indentifikasi. Suatu cara yang digunakan
individu untuk mengahadapi orang lain dengan membuatnya menjadi kepribadiannya,
ia ingin serupa dan bersifat sama seperti orang lain tersebut.
o
Kompensasi. Seorang individu tidak memperoleh
kepuasan dibidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasaan dibidang lain.
o
Overcompensation/Reaction Formation. Perilaku
seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan
pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang
biasanya berlawanan dengan tujuan pertama.
o
Sublimasi. Suatu mekanisme sejenis yang memegang
peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan
yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh
masyarakat dan derajatnya lebih tinggi.
o
Proyeksi. Perilaku seseorang yang menutupi
kualitas perilakunya yang tidak
layak/kurang baik, kemudian mengenakan atau memproyeksikan kualitas atau
sifat yang tidak baik tersebut pada
orang lain.
o
Introyeksi. Memasukan dalam diri pribadi dirinya
sifat-sifat pribadi orang lain.
o
Reaksi Konversi. Secara singkat mengalihkan
konflik ke alat tubuh atau
mengembangkan gejala fisik.
o
Represi. Konflik pikiran, impuls-impuls yang
tidak dapat diterima dengan paksaan
ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan.
o
Supresi. Menekan konflik impuls yang tidak dapat
diterima secara sadar. Individu tidak
mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya.
o
Denial. Mekanisme perilaku penolakan terhadap
sesuatu yang tidak menyenangkan.
o
Regresi. Mekanisme perilaku seorang yang apabila
menghadapi konflik frustasi, ia menarik
diri dari pergaulan.
o
Fantasi. Apabila seseorang menghadapi
konflik-frustasi, ia menarik diri dengan
berkhayal/berfantasi, misalnya dengan lamunan.
o
Negativisme. Perilaku seseorang yang selalu
bertentangan/menentang otoritas orang
lain dengan perilaku tidak terpuji.
o
Sikap Mengritik Orang Lain. Bentuk pertahanan
diri untuk menyerang orang lain dengan
kritikan-kritikan. perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif.
D.
Pendekatan “Problem Solving” terhadap Stress
Pemecahan masalah terhadap stress ada banyak caranya,
ada bisa dengan kemampuan sendiri maupun dukungan dari lingkungan. Seseorang
yang memiliki tingkat kematang emosial yang bagus maka dia seharusnya bisa
lebih mudah dalam memecahkan suatu permasalahan yang mungkin akan mengakibatkan
stress. Di bantu juga dengan pendekatan spiritual kepada Tuhan YME, agar selalu
di carikan jalan keluar yang terbaik. Jika dari Lingkungan, peran orang tua dan
sahabat sangat diperlukan agar kita bisa terhindar dari stress. Kita bisa
curhat mengenai permasalahan yang sedang kita hadapi.
Sumber :