Maafin kita Tam.... :'(
Setiawan Utama. Dia seorang lelaki tingkat remaja yang
humoris, unik mukanya (sampe pernah di bilang mirip badut dufan haha), baik,
dan salah satu teman saya yang pernah saya tunggu dalam jangka waktu yang cukup
lama, sekitar 2,5 tahun lebih. Kenapa saya menunggu dia? Nanti saya akan
jelaskan, saya ceritakan dulu bagaimana saya mengenal dia. Dia teman sekelas
saya waktu kelas 11 di SMA. Awal saya melihat Tama, begitulah panggilannya,
saya mengira dia ituuuuuu anak yang bandel, pemales, urakan, haha tapi ternyata
nggak juga. Saya nggak begitu punya banyak cerita dengan teman saya yang satu
ini, karena ketika saya dan Tama mulai akrab itu terjadi ketika mau memasuki
semester 2 di kelas 11. Dimana saat itulah saya harus mulai menunggunya. Saat
semester satu saya cukup sering satu kelompok dengan Tama bila ada tugas.
Pernah kedapetan satu kelompok di pelajaran Sosiologi (kayaknya sih, lupa
hehe), satu kelompok itu ada saya, Tama salahsatunya, Ucup, Seto, dan ada satu
lagi sebenarnya, tapi saya lupa, maklum ya? Saya cuma bisa pasrah aja ketika
disebutkan nama anggota kelompok saya itu mereka. Dalam pikiran saya,
"haduh, ini mah bakal gue semua ini yang ngerjain, cuma gue doang ini,
haduh" dan ternyata ya memang benar. Ya saya hanya memakluminya saja lah,
satu kelompok dengan mereka cumabisa pasrah dah pokoknya. Oh iya, saya pernah
Car Free Day-an bareng temen-temen juga, dan Tama juga ikut. Anak-anak LPM dan
beberapa temen yang lain juga. Tama yang saya tahu waktu itu sering banget
mencar dari rombongan, heran saya juga. Dia bawa satu temannya, entah siapa
namanya, berdua mulu mereka, ngilang, ntar tau-tau nongol lagi ckck untung lo
tau jalan tam, kalo nggak masa iya gue sama anak-anak kudu ke kantor polisi
buat ngelapor ada badut dufan ilang, gak mungkin taaam. Tapi ya akhirnya pas
mau pulang kita bareng terus semuanya.
Dateng deh tuh yang namanya Study Tour. Saya dan teman
sekelas mendapatkan bis nomer 4, bis penuh kenangan bareng anak Acrevone, itu
sebutan untuk kelas saya. Dan Acrevone itu singkatan dari "Awesome Crew of
Eleven Social One", dan yang mengarang nama ini adalah teman saya yang
bernama Hino, eh? maap, maksud saya Nadira, karena tidak jauh beda ukuran
badannya dengan mobil Hino, terima kasih Hinoooo, eh Nadira yang cantiiiiik.
Balik lagi ke bis 4, kami Study Tour ke Jogja-Solo, di bis ini kami semua
bernyanyi bersama dalam perjalanan, bercanda, ceng-cengan haha, mulai ketahuan
sama beberapa temen saya kalo saya suka Andra, ups! Haha udah nggak kok. Yang
saya tahu, Tama sempat dapat kesempatan berfoto dengan salah satu pemain bola
klub bola Indonesia, saya tidak tahu siapa namanya, karena bukan saya yang foto
bareng, tapi Tama. Beruntung juga tuh si Tama. Dan ketika perjalanan pulang,
bis kami AC-nya terlalu dingin. Sampai Tama yang berbadan besar saja tidak kuat
menahan dinginnya. Tapi malah dikerjain sama salah satu temen saya juga, AC
bisnya malah di sorot ke arah Tama, padahal udah sarungan si Tama haha, udah di
tutup AC-nya, di buka lagi sama temen saya itu. Saya bilang aja, "kasian
begok itu si Tama kedinginan haha", kata temen saya, "biarin elah
hahaha". Eh si Tama yang lagi tidur kebangun dah gara-gara kedinginan,
kasian si Tama, tapi tetep aja dikerjain ckckck. Gak kerasa kami sudah sampai
di Jakarta lagi.
Tidak lama UTS pun menyambut kedatangan kami sepulang dari
Study Tour. Kami hanya masuk beberapa hari, dan setelahnya UTS. Sejak saat
pulang study tour itu, saya tidak pernah melihat Tama masuk sekolah, dan memang
dia dikabarkan sakit. Saya pikir, "wah gara-gara kesorot AC di bis apa ya?
hayoloh ckck". Dan kabar pun menyebar dengan cepat, saya dengar dia di
rawat. Perlahan informasi semakin lengkap. Tama dikabarkan di rawat di RS
Dharmais Jakarta setelah sebelumnya di rawat di RS daerah Bekasi. Ketika saya
tau itu, saya hanya mengira Tama mungkin terkena Tipus atau DBD, karena
sebelumnya saya tidak tau RS Dharmais itu RS apa. Saya mengetahui kabar itu
ketika saya di rumah teman saya, dan saya sedang numpang twitteran saat itu.
Saya lihat salah satu teman sekelas saya ada yang ngetwit mengabarkan kalau
Tama itu bukan hanya sekedar Tipus atau DBD, melainkan Leukimia. Saya terduduk
lemas saat mambaca update dari twitter teman saya itu. Dan teman saya yang saat
itu berada di dekat saya berkata, "Dharmais itu kan rumah sakit khusus
kanker". Saat itu entah apa yang saya rasakan, saya mau mengeluarkan air
mata rasanya, dan keluarlah sedikit dari mata saya. Teman saya hanya bisa
menenangkan saya. Besoknya pun, sekolah akhirnya mengabarkan berita kalau Tama
memang sakit yang tidak mudah untuk cepat sembuh, bahkan kemungkinan tidak bisa
sembuh. Tapi saya meyakinkan kalau Tama pasti bisa sembuh, karena penyakitnya
segera ditangani setelah diketahui. Meskipun itu tidak mungkin, tapi saya tetap
yakin Tama pasti penyakitnya akan hilang.
Acrevone kekurangan satu personilnya. Kami semua berdoa agar
Tama bisa sekolah lagi. Dan lagi-lagi saya mendapat tugas kelompok yang
sekelompok dengan Tama. Tugas kelompok Bahasa Indonesia. Dimana kami di suruh
untuk mementaskan sebuah drama karangan sendiri. Saya sempat bingung peran Tama
harus bagaimana, dan akhirnya ditemukan solusinya, Tama di buat menjadi murid
pintar yang mendapat kesempatan melakukan pertukaran pelajar, meskipun
kenyataannya itu mustahil haha. Tanpa kehadiran satu peran dari Tama, kami cukup
bisa menanganinya, meskipun jadi sedikit sedih karena terpikir seharusnya Tama
bisa memerankan peran ini. Beberapa waktu sebelum pementasan drama, saya dan
beberapa teman saya melakukan perwakilan dari teman sekolah untuk menjenguk
Tama di Dharmais. Saya tidak mungkin membuang kesempatan ini, bisa melihat Tama
lagi setelah beberapa bulan tidak melihatnya. Ketika sampai di Dharmais, saya
berharap keadaan Tama masih seperti sebelum sakit. Dan memang benar, hanya saja
saya melihat badan Tama yang besar itu sedikit mengecil alias kurusan haha saya
tidak mungkin berpikir kalau Tama melakukan diet. Sebelum memasuki kamar Tama,
diberitau untuk tidak sedih melihat keadaan Tama oleh orang tuanya. Ya, saya
tidak sedih ketika itu, saya tidak mengeluarkan air mata sedikit pun ketika
melihat Tama, sama sekali tidak. Dan ketika saya harus bergantian melihat Tama
dengan teman saya yang lain. Ketika melangkah keluar kamar, seketika itu juga
air mata saya keluar dengan sendirinya, mau saya suruh masuk lagi dia gak mau haha.
Saya ingat saat itu ketika sudah mau memasuki semester akhir. UAS juga sudah
berlangsung, tinggal menunggu kabar nilai. Kelas mulai dianggurkan oleh para
guru. Dan saat itu pula kami bebas. Salah satu teman saya dari kelas lain ada
yang membawa gitar saat itu. Teman saya Jeff yang bisa main gitar meminjamnya.
Kebetulan pula saat itu teman saya Dewi memberi tau kalu dia sedang bbm-an
dengan Tama. Saya senang mendengarnya dia masih baik-baik saja. Muncul lah ide
untuk mengirim VN atau Voice Note, yaitu pesan suara yang bisa dikirim ke
sesama pengguna BB. Saya, Dewi, Jeff dan beberapa teman lain yang ada di kelas
saat itu mengirimkan VN sebuah lagu untuk Tama. Lagu tentang persahabatan.
Setelah mendengar itu pun, Tama mengucapkan terima kasih pada kami.
Setahun setelah itu, saya yang sudah duduk di bangku kelas
12 tidak pernah sekalipun melupakan Tama. Meskipun saya ataupun teman saya yang
lain pun tidak ada yang tau bagaimana kabar Tama. Tapi ada yang bilang Tama itu
kuat, dan dia baik-baik saja kok. Ya saya yakin itu. Kebetulan kakak kelas saya
ada yang bertetangga dengan Tama. Dia juga tidak begitu tau kabar mengenai
Tama, karena mungkin Tama tidak diperbolehkan untuk bermain atau keluar rumah
lagi. Saya dan teman-teman saya selalu merencanakan untuk menjenguk Tama, ya!
merencanakan. Tapi nggak pernah kesampean. Saya hanya bisa pasrah, berdoa agar
Tama tetap kuat menjalani cobaan yang dia terima itu. Nggak kerasa udah lulus
dari SMA. Ketika wisuda, ternyata ada satu video yang merekam segala kegiatan
sekolah saat kami menuju kelulusan. Dan tidak di sangka, diselipkan foto Tama
di antara video itu. Saat itu juga saya tidak bias lagi menahan air mata saya.
Setiap kali mengingat Tama saya takut akan kemungkinan lain yang buruk yang
biasanya terjadi pada pengidap leukimia. Ada satu film yang berjudul Surat
Kecil Untuk Tuhan, di situ diceritakan tentang seorang gadis remaja yang
berjuang juga melawan leukimia. Saya menontonnya waktu itu, kebetulan sedang
tayang di salah satu stasiun TV. Saya belum pernah menontonnya sebelumnya, jadi
saya belum tau bagaimana ceritanya saat itu. Setelah mengerti bagaimana cerita
di film itu berjalan, saya langsung terpikir untuk meng-sms salah satu teman
saya, saya bilang, "ada film surat kecil untuk tuhan, jadi inget tamaaaaa
:'(", dan ternyata teman saya itu juga sedang menontonnya, dia juga
bilang, "sama tuuuuur", lo selalu kita inget tuh tam.
Tanggal 6 Januari 2013, saya ingat tanggal itu. Tanggal
dimana saya mulai berharap kembali dengan semangat untuk kesehatan teman saya
Tama. Saat itu saya sudah memasuki bangku kuliah. Saat itu entah pukul berapa,
saya sedang main twitter. Saya sedang memantau Timeline. Dan apa yang saya
lihat? Ada Tama dengan akunnya yang bernama @setiawanutama yang sedang
mengupdate di twitter. Saat itu juga segera saya memention Tama, kira kira
beginilah beberapa percakapan saya dengan Tama di twitter, dan beberapa teman
saya juga ikutan (saya ketik sesuai dengan gaya di twitter ya?)
"@catursekar: @setiawanutama
tamaaaaaaa!!! kangen tam sama lo, beneran gak boong hehe apa kabar tam?"
"@setiawanutama eh catur
alhamdulillah baik gua RT @catursekar: @setiawanutama tamaaaaaaa!!! kangen tam
sama lo, beneran gak boong hehe apa kabar tam?"
"@catursekar: @setiawanutama
alhamdulillaaaah :D kapan bisa ngumpul lagi tam? ayolaaaah~ hehe"
"@setiawanutama Insya allah
kalo pengobatannya udah selesai yak RT @catursekar: @setiawanutama
alhamdulillaaaah :D kapan bias ngumpul lagi tam? ayolaaaah~ hehe"
"@catursekar:
@setiawanutama kapan tam? masih lama ya tam? :("
"@setiawanutama Sekitar 30
minggu lagi tur hahaha RT @catursekar: @setiawanutama kapan tam? masih lama ya
tam? :("
"@danangplay bentar tam! RT
@setiawanutama Sekitar 30 minggu lagi tur hahaha RT @catursekar: @setiawanutama
kapan tam? Masih lama ya tam? :("
"@catursekar: iya tam! bentar,
semangat ya taaaam :) kita semua bantu doa kok RT @danangplay bentar tam! RT
@setiawanutama
Sekitar 30 minggu lagi tur hahaha
RT @catursekar: @setiawanutama kapan tam? masih lama ya tam? :("
"@setiawanutama iya ini aja
hampir 2 thn ga berasa RT @catursekar: iya tam! bentar, semangat ya taaaam :)
kita semua bantu doa kok RT @danangplay bentar tam!"
dan ini juga percakapan lainnya dengan salah satu teman saya
yang lain lagi, dia ikutan me-retweet mention saya ke Tama,
"@catursekar: @setiawanutama
alhamdulillaaaah :D kapan bisa ngumpul lagi tam? ayolaaaah~ hehe"
"@Rzkyans kangen ya tur sama
Tama? RT @catursekar: @setiawanutama alhamdulillaaaah :D kapan bisa ngumpul
lagi tam? ayolaaaah~ hehe"
"@catursekar iya yuuung :(
makanya kita doain selalu buat tama yung RT @Rzkyans kangen ya tur sama Tama?
RT @catursekar: @setiawanutama"
"@setiawanutama hahah thanks
bgt ya doanya RT @catursekar iya yuuung :( makanya kita doain selalu buat tama
yung RT @Rzkyans"
ini semua berlangsung di tanggal 6 Januari 2013, dan dari
saat itu saya selalu berharap Tama bener-bener bakal ada di 30 minggu ke depan.
Sekitar 6 September kurang atau lebih dari tanggal segitu seharusnya saya dan
teman-teman saya sudah bisa bertemu Tama, ya seharusnya! Tapi Tuhan berkata
lain, mungkin Allah sayang sama Tama, gak mau ngeliat Tama sakit-sakitan lagi,
minum banyak obat lagi, ngerasain kemoterapi yang bahkan lebih sakit dari
sekedar luka sobek atau bakar. Belom genap 30 minggu, tepat pada tanggal 26
Agustus 2013 Tama udah di panggil dan di panggilnya bukan sama mamanya ya!
Haha, Tama pergi untuk selamanya. Tama bener-bener udah ilang kan penyakitnya
sekarang? haha dan menghilang juga dari kehidupan dunia, dari kehidupan saya
dan temen-temen saya yang udah sabar nunggu Tama. Saya ingat kembali, saat saya
melakukan perwakilan sekolah dengan beberapa teman saya untuk menjenguk Tama di
Dharmais, itu ternyata adalah terakhir kalinya saya bertemu Tama. Dan 6 Januari
2013 itu adalah percakapan terakhir saya dengan Tama. Cukup bersyukur karena masih
sempat merasakan semangat Tama yang tidak kalah dengan pejuang '45 dulu untuk
melawan penyakitnya itu. Dia masih mau sembuh untuk bertemu dengan semua
temannya, masih mau berkumpul lagi seperti dulu yang sering dia lakukan dengan
temannya anak-anak LPM, masih ingin sekolah dan bercanda juga ketawa bareng
lagi padahal, tapi semua itu kandas tanpa Tama capai satupun. Yang saya sesali
itu saya dan temen-temen saya belom sempet minta maaf sama Tama. Belom sempet
jenguk Tama lagi juga, yang sebenernya udah direncanain berulang kali, tapi
gagal juga berulang kali. Maafin kita tam.... :'''(( mungkin ini udah cukup ya?
Saya takut mata saya berubah segede buah kesemek kalo nulis lebih banyak lagi,
karena saya nulis ini sambil nahan aer yang keluar dari mata, gak tau kenapa
ini keluar mulu. Dan kenapa di beberapa tulisan saya selipin ketawa? Buat nahan
emosi saya kalo udah mulai keluar air dari mata saya, haha :'D
Ps :
* dari saya :
Gue kira gue udah gak bakal nangis lagi pas nulis cerita
ini, eh taunya gak bisa haha, tanggung jawab lo tam udah bikin gue sama yang lain
nangis ckckck haha :'D tiap liat conversation gue sama lo di twitter itu nyesek
tam. Liat foto lo sama anak-anak juga bikin gue nguras aer mata lagi, bikin gue
lemes mendadak. Bener-bener lo tam, gak bisa apa lo balik dulu buat ngasih
kesempatan gue minta maaf? Maafin gue
tam? Maafin temen lo ini yang gak pernah nemenin lo di saat lo kesakitan, belom
jenguk lo lagi, belom cerita tentang banyak hal yang lo belom tau tentang
anak-anak. Tapi bukan berarti gue sama yang lain gak pernah mikirin lo tam,
kita semua bener-bener nunggu lo lho tam. Eh tapi qodarnya laen ye tam? Andai
lo gak pergi tam, lo bisa liat ini cerita tam, dan bukan dengan akhir yang
begini. Pastinya dengan akhir cerita yang kita semua harepin juga. Sekali lagi
maafin gue ya tam? We'll always praying for you, and always loving you~